Showing posts with label Sir Alex Ferguson. Show all posts
Showing posts with label Sir Alex Ferguson. Show all posts

Sunday, June 2, 2013

Manchester United dan Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson, legend that always inspiring us
Selamat malam, para pembaca blog ini yang (mungkin) bosan membaca berita disini. Am i right?wkwk. Sebenarnya berita berita disini memang hasil copas dari sumber sumber kredibel....seperti detik.com, kompas.com, kaskus.com, dan brazzers.com lain lain........

Hal diatas itu terjadi dikarenakan penulis, sutradara, dan aktor dari blog ini...sudah kehabisan ide untuk membuat tulisan tulisan yang menarik, apa mungkin saya memang gaada bakat nulis ya?hmm-_- jujur saya pengen seperti ibu trinity (buat yang gatau trinity,check di naked-traveler.com) yang sudah tua*eh maaf bu wkwk* tapi masih mewarnai dunia blogging dengan tulisan tulisannya yang menurut saya pribadi sih menarik, bahkan beliau sudah menghasilkan buku dari blognya tersebut.

Back to topic, sebenernya postingan ini ditujukan buat Sir Alex Ferguson. Beliau adalah pelatih dan manager dari klub Manchester United selama 26 tahun,sejak 1986-2013. Dan di penghujung musim 2012-13, dia secara resmi pensiun dari MU, dari Sepakbola. Banyak pihak yang sedih dan terharu mendengar pengumuman ini, seakan akan sepakbola global belum siap menerima kenyataan bahwa musim depan MU akan dilatih oleh orang lain

Bagi saya yang baru berumur 15 tahun, tentu momen ini merupakan momen pergantian pelatih pertama MU yang saya tahu sejak saya mendukung MU. Saya mengetahui pergantian pelatih MU dulu hanya dari internet, tidak secara langsung. Saya hanya tahu musim pertama SAF sebagai pelatih MU itu buruk dari internet, dan saya bahagia bisa menyaksikan momen pergantian pelatih ini, setidaknya tidak terlalu buruk untuk pertama kali...

Kira kira seminggu setelah pengunduran diri Sir Alex Ferguson, beliau sudah menunjuk penggantinya. Seorang pelatih lumayan muda dari Merseyside. Pelatih Everton, David Moyes. Sebenernya hal ini termasuk "istimewa" karena setahu saya, gaada pelatih yang resign/mengundurkan diri bisa menunjuk sendiri calon penggantinya. Contoh : Jupp Heyckness setelah mengundurkan diri tidak bisa menunjuk pelatih yang akan menggantikannya, tapi direksi Bayern yang memutuskan. But Ferguson did it!
Hal ini membuktikan bahwa karisma dari seorang Sir Alex Ferguson begitu besar di MU. Bahkan di jajaran direksinya.

David William Moyes lahir di Bearsden,Skotlandia pada 25 April 1963. Ia adalah seorang bapak satu anak yang menangani Everton sejak 2002-2013. Sebelumnya dia adalah pemain yang berposisi sebagai Central Back. Karir pelatih pertamanya adalah menangani Preston North End,sebelum berlabuh ke Everton pada 2002.

Nahkoda baru Manchester United

"I am from a city (Glasglow) that is not unlike Liverpool. I am joining the people's football club. The majority of people you meet on the street are Everton fans. It is a fantastic opportunity, something you dream about. I said 'yes' right away as it is such a big club." - David Moyes


Penutup. Semua fans MU diluar sana, termasuk saya, berharap akan ada keajaiban yang akan dikeluarkan oleh Moyes dalam menangani MU. Kita akan tetap menjadi juara inggris,dan kita akan mencoba meraih kembali Si Kuping Besar alias Trofi Liga Champion ke ruang trofi di Old Trafford...

Good Luck,David Moyes!







Sunday, November 11, 2012

Fergie Puji MU yang Tampil Luar Biasa



Birmingham - Manchester United lagi-lagi melakukan comeback dan menang. Kali ini korbannya Aston Villa dan Sir Alex Ferguson memuji performa anak asuhnya yang disebutnya luar biasa.

Sebelum laga di Villa Park, Minggu (11/11/2012) dinihari WIB, MU sudah lima kali tertinggal lebih dulu dari lawan-lawannya di Liga Inggris namun mengakhiri laga dengan tiga poin di tangan.

Kembali di pekan ke-11 pasukan dari Old Trafford itu menunjukkan mentalitas juaranya setelah tertinggal dua gol lebih dulu dari Villa. Gol-gol Javier Hernandez (dua gol) serta bunuh diri Ron Vlaar membayar lunas dua gol Andreas Weimaann.

Alhasil MU menang 3-2 dan mengokohkan posisinya di puncak klasemen dengan 27 poin, unggul empat angka dari Chelsea yang baru berlaga besok malam melawan Liverpool,

Menyikapi permainan anak asuhnya, Fergie senang bukan main karena MU lagi-lagi bisa membalikkan keadaan lewat suguhan sepakbola menyerang yang mereka miliki. Meski begitu Fergie juga memuji penampilan spartan Villa.

"Hasil yang luar biasa. Pertandingan yang luar biasa," seru Fergie seperti dilansir BBC.

"Aston Villa tampil fantastis hari ini, mereka tampil penuh semangat tapi kami tidak menyerah. Kami menghantam mistar dua kali dan kami tidak pernah menyerah" sambungnya.

"Kami begitu ceroboh di babak pertama dan kami harus lebih baik (di babak kedua) dan kami melakukannya. Javier Hernandez begitu fantastis di kotak penalti dan itu memberi kami tiga gol hari ini. Jika Anda mencetakhat-trick maka Anda sudah menunjukkan penampilan yang bagus dan dia akan bermain pekan depan."

Sunday, September 9, 2012

Fergie Dikabarkan Ingin Pulangkan Ronaldo ke MU



Manchester - Situasi tak ideal yang tengah dialami Cristiano Ronaldo di Real Madrid tak luput dari perhatian Sir Alex Ferguson. Fergie dikabarkan tengah mencari celah untuk membawa pulang Ronaldo ke Manchester United.

Ronaldo saat ini sedang bermuram durja. Penyerang asal Portugal itu tak berselebrasi setelah mencetak dua gol ke gawang Granada, akhir pekan lalu.

Hingga sekarang, Ronaldo masih merahasiakan apa yang sebenarnya membuat dia bersedih. Dia cuma menegaskan, wajah sedihnya sama sekali tak berkaitan dengan uang.

Ketidakbahagiaan Ronaldo itu kemudian memantik spekulasi si pemain ingin pergi dari Madrid. Dengan kualitas kelas wahid yang dimilikinya, Ronaldo tentu tak akan kesulitan mencari klub baru.

Kalau Ronaldo memang benar-benar ingin hengkang, Ferguson disebut-sebut siap meminta petinggi MU untuk menyiapkan dana besar demi mengangkut si pemain dari Bernabeu ke Old Trafford.

"Sikap manajer sudah jelas saat Ronaldo bergabung dengan Real. Kalau dia (Ronaldo) meninggalkan Bernabeu, maka dia harus kembali ke Old Trafford," ungkap seorang sumber MU, seperti dilansir Mirror.

"Ini adalah transfer yang akan membuktikan bahwa United masih bisa bersaing dengan siapa pun untuk nama-nama terbesar di sepakbola."

"Tapi, pada saat ini, cuma Ronaldo yang tahu apakah dia serius soal meninggalkan Madrid atau dia hanya merajuk," kata sumber itu.

Ronaldo menuai sukses besar saat jadi anak buah Fergie pada periode 2003-2009. Pemain yang kini berusia 27 tahun itu membukukan 118 gol dalam 292 pertandingan bersama The Red Devils. Dia menjadi pemain termahal dunia saat dilepas ke Madrid seharga 80 juta poundsterling, tiga tahun silam.

Friday, June 22, 2012

Merah Redup 'Setan Merah'



Kegagalan tetaplah sebuah kegagalan, seperti apa pun bentuknya. 'Setan Merah' mau tak mau harus mengakui bahwa merah mereka tidak menyala terang musim ini.

Jose Mourinho pernah berujar bahwa dirinya lebih suka memenangi liga ketimbang Liga Champions. Alasannya? Memenangi liga butuh konsistensi sepanjang musim. Berbeda halnya dengan Liga Champions, yang terkadang suksesnya bisa ditentukan lewat performa dari dua buah leg. Singkat kata, Mourinho ingin menggarisbawahi bahwa memenangi liga lebih sulit dari Liga Champions.

Dan di sinilah kita sekarang... Beberapa musim setelah komentar Mourinho itu terucap. Manchester City baru saja berhasil menjuarai Liga Inggris lewat dua buah gol di injury time--gaya yang sebenarnya selama ini menjadi trademark dari Manchester United. The Citizens mengakhiri puasa 44 tahun gelar juara Liga Inggris, sementara The Red Devils pun dibuat hampa gelar.

Beberapa mungkin bisa berkilah bahwa MU sudah mendapatkan Community Shield musim ini. Caranya pun dengan mengalahkan City pula. Tetapi percayalah, jika Roy Keane masih menjadi kapten, maka ia tak akan terlalu senang dengan pencapaian itu. Keano pernah tertangkap basah kamera mengangkat trofi Community Shield dengan muka datar. Biasa-biasa saja.

Dalam tujuh tahun terakhir, ini merupakan musim terburuk MU. Ketika itu di musim 2004/2005, MU sama sekali gagal mempersembahkan trofi buat fansnya: duduk di posisi tiga Premier League, jadi runner up Piala FA, semifinalis Piala Liga Inggris, runner up Community Shield, dan terdepak di fase knock-out pertama Liga Champions.

MU, beserta pendukungnya, memang layak kecewa. Tapi, mau tak mau mereka harus mengakui bahwa City tampil lebih baik dan punya skuad yang relatif lebih baik pula. Setidaknya City tidak membuyarkan kesempatan ketika mereka harus meraihnya, dan ini dibuktikan pada laga melawan Queens Park Rangers semalam. Sementara itu, MU mungkin mengutuki kegagalan mereka mempertahankan keunggulan delapan poin yang sempat ada.

City memang sempat tampil off-form di bulan Maret, di mana mereka menelan satu kekalahan dan dua hasil imbang dari lima laga yang dijalani. Tetapi, mereka justru bangkit di saat yang tepat. Berkebalikan dengan MU yang justru punya start sangat brilian di awal musim--menang besar atas Arsenal dan Bolton, lalu menang meyakinkan atas Chelsea--tapi justru melempem di pertengahan musim dan tersandung ketika harusnya mereka berlari kencang.

MU mungkin tengah menyesali poin-poin yang hilang akibat performa yang kerap naik-turun itu. Sebab, siapa sangka mereka hanya akan kalah oleh selisih gol. Gary Neville menyebut, kehilangan gelar juara akibat kalah selisih gol adalah apa yang selalu ditakutkan Sir Alex Ferguson selama ini. "Itu adalah mimpi terburuknya. Kehilangan gelar juara karena selisih gol adalah apa yang selalu dia ungkapkan di setiap musim," ungkap mantan kapten 'Setan Merah' ini.

********

London, 28 Mei 2011, Sir Alex Ferguson tersenyum seraya menjabat tangan Pep Guardiola. Padahal timnya baru saja dikalahkan Barcelona 1-3. Tapi, pria asal Skotlandia itu mengaku tak menyesal kalah dari permainan sepakbola yang diperagakan tim sekelas Barca. Dasar Fergie, kekalahan pun dipandangnya sebagai sebuah tantangan baru. Sejak kekalahan di Wembley itu, ia bertekad untuk menjungkalkan Los Cules--sama seperti ketika ia bertekad untuk menjungkalkan Liverpool dari takhta penguasa Liga Inggris.

Beberapa bulan berselang, Fergie membawa skuadnya yang baru ditinggal Paul Scholes dan Edwin Van der Sar ke Amerika Serikat untuk melakukan tur pra-musim. Di sini ia menemukan betapa briliannya Tom Cleverley dan padunya ia dengan Anderson di lini tengah. Nama yang disebut belakangan berjanji akan tampil maksimal di musim baru andai mendapatkan persiapan yang cukup selama pra-musim. Keduanya tampak menjanjikan sehingga Fergie pun memilih untuk tak membeli seorang gelandang untuk menggantikan Scholes.

Cleverley dan Anderson pun tampil menjanjikan di awal-awal musim, sampai akhirnya tiba laga melawan Bolton. Cleverley cedera akibat mendapatkan tekel dari Kevin Davies dan akhirnya harus menghabiskan sepanjang musim bolak-balik ruang perawatan. Ketika ia kembali bermain, performanya pun tak kunjung kembali seperti ketika di awal musim. Bagaimana dengan Anderson? Sepekan setelah melawan Bolton, ketika menghadapi Chelsea, ia tampil biasa-biasa. Ia hanya bertahan sampai menit 63 sebelum akhirnya digantikan Michael Carrick. Penampilannya pun tak kunjung sama lagi. Banyak yang menilai Anderson kehilangan partner sehati di lini tengah pada diri Cleverley.

Lini tengah MU pun limbung. Mereka kerap tampil "kurang darah" dan akhirnya tampil relatif datar dengan permainan yang nyaris tak atraktif. Hal ini diperparah dengan absen dan cederanya sejumlah pemain seperti Darren Fletcher, Nemanja Vidic, hingga Chris Smalling. MU memang layak bangga bahwa dengan skuad compang-camping saja mereka bisa duduk di posisi dua. Namun, bukan itu intinya. Dengan pilihan pemain yang terbatas dan skuad yang nyaris tidak dalam, MU tidak bisa mengembangkan taktik ataupun strategi. Mereka memang sukses, tapi permainannya tidak terlalu menyenangkan untuk dilihat.

Situs taktik Zonal Marking, pernah melabeli MU pada periode 2006 hingga 2009 sebagai salah satu tim terbaik dekade ini. Tim dari era tersebut telah membuat MU meraih tiga titel Premier League, dua Piala Carling, satu Liga Champions, dan satu Piala Dunia Antarklub. Fergie dengan bebas bisa mengkreasikan formasi dari 4-4-2, 4-5-1, 4-2-3-1, hingga 4-3-3 tanpa striker murni. Hal itu mungkin dilakukannya karena ia punya Cristiano Ronaldo, Carlos Tevez, dan Wayne Rooney di depan, gelandang-gelandang lincah semodel Park Ji-Sung dan Nani di sayap, visi passing dari Scholes dan Carrick, serta kegigihan seorang Owen Hargreaves. Tak lupa pula, Rio Ferdinand dan Vidic juga tengah berada dalam performa puncak.

Fergie, meskipun sepuh untuk ukuran seorang manajer, tidak buta taktik sepakbola modern. Meski kerap mematok formasi 4-4-2, pola tersebut kerap berubah seiring dengan berjalannya pertandingan atau musim. Di era 90-an ia tak ragu memasang 4-4-1-1 dengan Eric Cantona berdiri di belakang striker atau memasang Scholes sebagai second striker. Keinginannya untuk terus menang dengan sepakbola menyerang telah membawanya ke berbagai momen dan situasi, mulai dari membawa Aberdeen menjungkalkan Real Madrid milik Alfredo Di Stefano pada final Piala Winners 1983, hingga pada keinginan ingin merekrut Guardiola dari Barcelona. Ia akhirnya berhasil menerapkan taktik operan satu-dua sentuhan di dalam tubuh MU dalam pencariannya akan sebuah tim terbaik.

Hal itulah yang hilang dari tubuh MU musim ini. Selepas 2009, banyak yang menilai kualitas MU menurun secara permainan, meski sukses mendapatkan satu trofi Premier League dan melaju ke final Liga Champions satu kali lagi. Fergie tak punya lagi Ronaldo yang getol mencetak gol dengan ditopang Rooney dan Tevez yang versatile dan rajin turun ke tengah untuk mencari bola. Tak ada lagi inovasi taktik. MU begitu mono-dimensional. Mereka terkadang mengandalkan serangan Antonio Valencia dari sisi kanan hingga menurunkan Rooney ke lini kedua untuk mengirim umpan jauh. Alhasil, Scholes pun sampai dipanggil kembali dari masa pensiunnya. Sebelum Scholes datang, persentase passing MU tak ada di papan atas deretan tim dengan statistik passing terbaik di Premier League.

Dengan tipikal permainan seperti itu, jangan heran jika MU gagal total di Eropa. Mereka tak mampu lolos dari fase grup Liga Champions dan akhirnya dibuat kewalahan menghadapi permainan Athletic Bilbao di Liga Europa. Tujuan Fergie untuk menjungkalkan Barcelona tertunda--kalau bukan runtuh. Sial bagi mereka, Barca juga gagal total di Eropa musim ini. Guardiola pun keburu mundur, sebelum Fergie bisa membalas kekalahan di final musim lalu.