Showing posts with label Inggris. Show all posts
Showing posts with label Inggris. Show all posts

Thursday, June 28, 2012

Inggris vs Italia: Utopia versus Realisme



Jakarta - Banyak orang mengernyitkan dahi saat coba mengingat kapan Inggris terakhir kali bertemu Italia. Walau bukan rival berat seperti Jerman-Belanda, Italia dan Inggris punya sisi menarik dari perbedaan kental akan filosofi sepakbola.

Bukan hal mengherankan ketika Italia memastikan diri bertemu Inggris di perempat final. Ya, rivalitas keduanya bukan seperti rivalitas antara Jerman-Belanda yang dilatarbelakangi sejarah perang dunia. Pun bukan seperti Argentina-Brasil yang memperebutkan status negara penguasa sepakbola di satu benua.

Walau kedua negara ini menjadi kiblat sepakbola Eropa dan dunia, Inggris dan Italia sendiri jarang dipertemukan di level kompetisi tertinggi. Rivalitas sonder pertemuan. Sepi.

Tapi, bukan berarti partai perempat final kali ini tidak menghadirkan tensi tinggi antara keduanya. Perbedaan filosofi sepakbola acap kali mengakibatkan suporter negara-negara ini beradu argumen dan saling mencerca.

Fans dan jurnalis Inggris sering memberi label pada sepakbola Italia sebagai sepakbola yang kotor, malas, defensif, dan penuh kecurangan. Sementara suporter dan media Italia menilai Inggris memainkan sepakbola yang terlalu naif dan jujur.

Utopia versus Realisme

Kultur di atas lapangan, atau di tribun stadion, tak bisa lepas dari budaya yang berkembang di masyarakat bersangkutan. Sebagian nilai dalam sepakbola Inggris berasal dari nilai etika protestan yang memiliki respek akan hukum dan peraturan. Nilai-nilai yang sama mengajarkan bahwa kerja keras dan kejujuran adalah nilai tertinggi yang dapat dimiliki oleh seseorang.

Sementara Italia memiliki kultur berbeda, yaitu kultur yang mengenal konsep peraturan adalah konsep relatif. Bahwa perbedaan antara kebenaran dan kebohongan, antara fair-play dan kecurangan, tidak selamanya hitam dan putih. Ada ruang-ruang untuk imajinasi dan interpretasi di sana.

Perbedaan nilai-nilai inilah yang menjadikan kedua negara melihat pertarungan di lapangan hijau dengan dua kacamata berbeda.

Suporter Inggris sering menyamakan pertarungan di lapangan layaknya duel; pertarungan sampai mati. Saat Inggris pergi berperang, mereka pergi dengan prinsip lebih baik mati dari pada menyerah di medan perang. Kalaupun kalah, mereka akan mati dengan tenang jika mengetahui bahwa mereka telah berjuang dengan jujur dan memberikan segalanya. Nilai-nilai yang sama juga dipegang oleh kelas pekerja sosialis di Inggris.

Sementara Italia, dan banyak negara Latin lainnya, melihat sepakbola sebagai pertarungan di hutan rimba, di mana mempertahankan diri dinilai lebih penting daripada nilai-nilai. Mereka akan menggunakan segalanya untuk tidak kalah, bahkan jika itu berarti bermain di daerah abu-abu.

Maka jangan heran jika tipe sepakbola yang Italia usung adalah sepakbola yang penuh kalkulasi dan strategi. Pesepakbola Italia bertarung tidak hanya dengan kakinya, tapi juga dengan otaknya, dengan imajinasinya, dengan emosinya, dengan hatinya, dengan tangannya, bahkan dengan matanya.

Mereka akan menghitung kelemahan terbesar lawan dan mengeksploitasinya, walau itu dilakukan dengan mengacaukan emosi dan psikologis musuhnya.

Andrea Tallarita, dalam kolom brilliannya “Understanding Italian Football", mengilustrasikan kedua perbedaan kultur ini dengan baik. Orang Inggris memiliki Sir Gawain, keponakan Raja Arthur dan salah seorang ksatria meja bundar terhebat, sebagai pahlawan. Sementara Italia mengidolai Ulysses, penasihat raja Ithaca yang cerdik dan berhasil menang dalam perang karena trik tipuan kuda Troya-nya.

Kultur sepakbola yang satu akan selalu berjuang mencapai utopia yaitu saat kemenangan dicapai melalui kejujuran. Sementara kultur yang lain mengakar pada realita.

Pertarungan di lapangan: Fantasisti versus Pemain Sayap

Kata "imajinasi" mungkin jadi kata yang tepat untuk menggambarkan filosofi sepakbola Italia di lapangan. Hal ini dikarenakan kultur sepakbola mereka, yang sarat dengan taktik dan kalkulasi, memaksa tim-tim Italia untuk memiliki imajinasi untuk membongkar strategi.

Adalah peran seorang fantasisti, yang secara harafiah diartikan sebagai "pekerja imajinasi", untuk menyediakan kreativitas di lapangan. Mereka yang diberi anugrah kemampuan sebagai seorang fantasisti bahkan dianggap setengah dewa oleh suporter Italia. Dari masa ke masa Italia pun telah menghasilkanfantasisti yang selalu dikenang seperti Gianni Rivera, Gigi Meroni, Roberto Baggio, Francesco Totti, atau Alessandro Del Piero.

Fantasisti sendiri bukan merupakan satu posisi khusus yang ditempati oleh seorang pemain. Lewat kolomnya lagi, Andrea Tallarita menjabarkan bahwa fantasisti adalah kemampuan seorang pemain untuk melihat kapan saat jendela kesempatan, untuk menyergap lawan secara tiba-tiba, terbuka.

Bak seorang pesulap yang mengubah tongkat menjadi bunga dalam sekejap mata, seorang fantasisti dapat menipu lawannya untuk melakukan gerakan atau koreografi yang tak terduga. Di Piala Eropa ini perhatikanlah Antonio Cassano. Berbeda dengan Pirlo, sering kali umpan atau tendangan yang Cassano lakukan bukan lahir secara metodik. Seolah berontak pada aturan kapan dan bagaimana suatu umpan harus dilakukan.

Walau tak memiliki padanan kata dalam bahasa lain, fantasisti sendiri tidak dimonopoli pemain berkebangsaan Italia. Rui Costa, Zinedine Zidane, Yuri Djorkaef, atau Kaka, datang ke Seri A kemudian pulang dengan meninggalkan jejak sebagai fantasisti yang akan selalu dikenang.

Namun, dalam sejarah panjang sepakbola Inggris, kehadiran fantasisti asli Inggris sendiri dapat dihitung dengan sebelah tangan. Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne adalah beberapa di antaranya.

Berbeda dengan Italia, peran dalam permainan sepakbola Inggris berasal dari pakem tradisional yang sulit tergantikan hingga saat ini.

Aturannya mudah: pemain bertubuh besar digunakan sebagai striker utama dan pemain tengah. Pemain dengan kecerdasan tinggi ditempatkan sebagai striker kedua. Pemain yang sulit untuk dijatuhkan melakoni peran sebagai pemain belakang, dan pemain dengan kecepatan tinggi diposisikan sebagai pemain sayap.

Pakem-pakem ini menyebabkan Inggris menghasilkan tipe-tipe pesepakbola yang sama dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah pemain sayap.

Selain Portugal, di Eropa Inggris memang jadi negara yang rutin menghasilkan pemain sayap, baik itu pemain sayap murni (pemain berkaki kanan ditempatkan di sayap kanan, dan sebaliknya), maupun wingeryang bergerak menusuk ke dalam atau lebih dikenal dengan inverted winger. 

Generasi saat ini mengenal nama-nama seperti Ashley Young, James Milner, Stewart Downing, Theo Walcott, atau Adam Johnson. Sementara pada periode 90-an ada David Beckham, Ryan Giggs (dibesarkan di Liga Inggris), Steve Mcmanaman, ataupun John Barnes.

Pemain sayap ini digadang-gadang menjadi kunci kesuksesan sebuah klub yang ingin merajai Liga Inggris. Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan Alex Ferguson di Manchester United. Walau membuang David Beckham dari klubnya, Ferguson tak pernah gagal menghadirkan kembali serentetan pemain sayap kelas dunia di Manchester. Mulai dari Giggs, Cristiano Ronaldo, Nani, hingga kini Ashley Young berhasil ia didik. Beberapa di antaranya mampu membawa MU meraih piala demi piala di Liga Inggris.

Seperti halnya Inggris yang jarang memproduksi seorang fantasisti, sepakbola Italia pun jarang menghasilkan seorang pemain sayap. Paling banter tim-tim Italia menggunakan seconda punta (striker kedua), yang memiliki kecepatan tinggi, sebagai penyerang yang ditempatkan di sayap dalam formasi 4-3-3.

Hal ini juga diperparah dengan diadopsinya formasi 4-2-3-1 dan 4-3-1-2 oleh klub-klub serie-A dalam satu dekade terakhir. Formasi ini menitikberatkan pada peran central-midfielder sehingga para pemain sayap jarang mendapatkan panggung.

Walau kehadiran pemain sayap Inggris pada Piala Eropa ini kurang bersinar, setidaknya ada 4 gol Inggris berasal dari area sayap kanan lapangan. Di kubu Italia sendiri peran sentral Cassano dalam membuka ruang dan memberikan umpan matang pada Balotelli tak terbantahkan.

Menarik untuk diamati apakah kedua kulminasi kultur sepakbola yang berbeda ini dapat jadi titik awal rivalitas panjang antara Inggris dan Italia.

Monday, June 25, 2012

Strategi Bertahan Inggris Justru Bikin Rooney Tak Berkutik



Wayne Rooney tak banyak memberi kontribusi saat Inggris kalah dari Italia. Minimnya peran striker Manchester United itu disebabkan oleh kesalahan Inggris sendiri, yang memilih bermain bertahan.

Meski memasang dua striker yakni Rooney dan Danny Welbeck, Inggris cenderung memainkan pola bertahan saat berhadapan dengan Italia. Di atas lapangan The Three Lionsmenarik banyak pemainnya jauh ke belakang, sebagaimana dilakukan Roy Hodgson kala menghadapi Prancis.

Strategi itu terbukti jitu hingga laga yang berlangsung di Kiev National Stadium, Senin (25/6/2012) dinihari WIB itu harus diselesaikan dengan babak adu tendangan 12 pas. Malang bagi tim asuhan Roy Hodgson itu, babak tos-tosan tak berjalan sesuai rencana.

Inggris kalah di babak ini setelah dua penendangnya, Ashley Young dan Ashley Cole, gagal mencetak gol. Sementara di pihak Gli Azzurri, cuma Riccardo Montolivo yang gagal menunaikan tugasnya dengan baik. Inggris tersingkir dengan skor akhir 2-4.

Atas strategi defensif yang diterapkan Inggris, bek Italia, Leonardo Bonucci menyatakan bahwa hal itu memberikan satu keuntungan tersendiri bagi timnya. Sebabnya dengan cara bermain seperti itu, ketajaman yang dimiliki Rooney tak dapat tereksploitasi dengan baik.

"Rooney tak berkutik saat menghadapi kami, disebabkan oleh taktik Inggris, karena dia harus banyak berlari ke belakang dan itu membuat dia lelah," jelas Bonucci di Football Italia.

Faktanya bukan Rooney saja yang jadi tidak efektif akibat strategi defensif Inggris tersebut. Dengan Welbeck juga harus naik turun membantu pertahanan, striker belia itu juga tak bisa berkontribusi besar pada timnya.

"Jerman tampil luar biasa di putaran final Piala Eropa dan babak kualifikasi, namun kami harus fokus untuk mengisi ulang baterai kami dan bersiap untuk semifinal. Sekarang kami di sini, kami ingin mengambil kesempatan kami," jelas asal bek Juventus itu terkait pertemuan dengan Jerman di babak semifinal.

"Semua pemain yang kami hadapi adalah pemain top di level ini, jadi kami menghadapi Mario Gomez dengan pendekatan yang sama seperti yang kami lakukan kepada Rooney, (Danny) Welbeck, atau (Andrew) Carrol," tegasnya.

'Balotelli Bakal Perbaiki Finishing-nya'



Kiev - Dalam laga melawan Inggris, Mario Balotelli punya banyak peluang. Namun, lantaran finishing yang buruk, penyerang klub Manchester City tetap saja gagal mencetak gol.

Secara keseluruhan, Gli Azzurri memiliki banyak peluang sepanjang 120 menit. Italia melepaskan 36 tembakan sepanjang laga dan 20 di antaranya tepat sasaran. Sementara Inggris hanya sembilan dan empat yang tepat sasaran.

Dari seluruh 36 tembakan tersebut, 11 di antaranya berasal dari Balotelli. Oleh situs resmi UEFA, bomber berusia 21 tahun tersebut dicatat punya 7 tembakanon target dan 4 tembakan off target. Namun, hasilnya nihil gol.

Peluang-peluang Balotelli mentah di tangan Joe Hart, gagal menemui sasaran, dan salah satunya juga sempat diblok oleh John Terry.

Oleh Andrea Pirlo, Balotelli dinilai membuat beberapa kesalahan dalam melakukan penyelesaian akhir. Namun, gelandang yang akhirnya dinobatkan menjadi man of the match itu meyakini bahwa Balotelli bakal memperbaikinya.

"Mario Balotelli bekerja keras dan membantu rekan setim yang lain. Dia membuat beberapa kesalahan dalam melakukan penyelesaian akhir. Tapi, dia punya kualitas dan akan memperbaikinya," ucap Pirlo diFootball Italia.

Sejauh ini, Balotelli baru membuat satu gol. Gol tersebut lahir pada laga melawan Republik Irlandia, di mana Balotelli mencetaknya dengan tubuh membelakangi gawang

Saturday, June 23, 2012

'Tiga Singa' Ingin Menangi Laga di Waktu Normal



Krakow - Timnas Inggris punya pengalaman pahit dengan yang namanya adu penalti. Tapi itu tak merisaukan Roy Hodgson saat timnya bertemu Italia besok, meskipun ia ingin memenangi laga di waktu normal.

Melawan Italia di Olympic Stadion Kiev, Senin (25/6/2012) dinihari WIB besok, Inggris boleh jadi lebih diunggulkan untuk menang mengingat performa mereka di fase grup. Tapi melawan Azzurri yang punya pertahanan solid dan segudang pengalaman, kemenangan tak akan mudah diraih dan boleh jadi laga akan berlanjut ke extra time atau bahkan diselesaikan lewat adu penalti.

Untuk yang terakhir itu peluang Inggris dan Italia sama-sama besar karena mereka punya sosok kiper tangguh dalam diri Joe Hart serta Gianluigi Buffon. Tapi The Three Lions punya rekor buruk menyoal adu penalti.

Lima kali mereka menjalani adu penalti di turmanen besar seperti Piala Eropa 1996 dan 2004 plus Piala Dunia 1990, 1998 dan 2006, kesemuanya berakhir dengan kekalahan. Tentu memori buruk itu belum hilang sepenuhnya dan boleh jadi masih menghantui para pemain dan juga fans.

Pertanyaan soal kemungkinan adu penalti pun diajukan para jurnalis kepada Hodgson usai memimpin latihan di markas mereka di Krakow. Lalu Hodgson menegaskan jika adu penalti akan dihindari sebisa mungkin oleh timnya. Baginya Steven Gerrard dkk wajib menang lewat pertarungan di waktu normal 2x45 menit.

Bahkan hingga saat ini pun Hodgson belum menentukan siapa-siapa algojo penalti jika pun Inggris harus mencapai fase itu. Sebab penalty shoot-out tak pernah terlintas dalam pikirannya.

"Aku belum memutuskan siapa yang akan jadi algojo penalti. Jadi tidak usah berspekulasi. Pertama-tama aku tidak tahu apakah laga akan diteruskan ke adu penalti dan yang kedua, siapa yang akan masih berada di lapangan usai 120 menit laga," tegas Hodgson di Sportinglife.

"Aku ada seorang yang optimistis. Aku tidak berpikir laga akan berlanjut ke adu penalti. Aku hanya mengantisipasi untuk kami bisa menang di waktu normal. Kami saja belum bertandingan, jadi mengapa Anda harus memintaku untuk memikirkan soal bagaimana jika laga berlanjut sampai 120 menit?" sambungnya.

"Itu adalah pikiran yang negatif dan aku tidak mengerti mengapa begitu terobsesi dengan itu," tandas Hodgson.

Hodgson Tak Salah Bawa Terry ke Polandia-Ukraina



Krakow - Penunjukkan John Terry sebagai bagian skuad Inggris di PIala Eropa 2012 awalnya mendapat banyak tentangan serta kritik. Tapi sejauh ini penampilan Terry terhitung memuaskan dan Roy Hodgson pun mengakui.

Kasus rasisme yang sedang menyangkut Terry adalah sebab utama mengapa media-media Inggris serta para fans banyak yang menyoroti keputusan Hodgson membawa bek Chelsea itu ketimbang Rio Ferdinand.

Persoalan ini kian memanjangkan perkara Terry yang sebelumnya sudah membawa korban yakni Fabio Capello yang mundur dari kursi pelatih, akibat pencopotan ban kapten dari lengan Terry.

Maka wajar Terry adalah sosok pemain Inggris yang paling disorot di Piala Eropa kali ini dan tiga laga di fase Grup jadi penilaian awal untuk pemain yang sempat tersangkut kasus perselingkuhan itu.

Setelahnya Inggris berhasil melewati babak tersebut dengan status juara grup dan penampilan Terry pun terhitung luar biasa bersama Joleon Lescott di jantung pertahanan Inggris.

Meski gawang Inggris kebobolan tapi kesigapan Terry dalam mengawal pertahanan dapat membuat tenang Joe Hart di bawah mistar. Salah satunya adalah ketika melawan Ukraina di mana ia menyapu bola hasil sepakan pemain Ukraina yang nyaris masuk ke gawang.

Maka wajar jika Hodgson menyebut keberhasilan Inggris melaju ke perempatfinal tak lepas dari perang Terry (dan Lescott) di lini belakang.

"Dia membawa penampilan bagusnya di akhir musim ke turnamen ini. Senang rasanya melihat ia mampu bekerja sama dengan baik bersama Joleon Lescott," tukas Hodgson di BBC.

"Jelas cederanya Gary Cahilll membuat persaingan di posisi (bek tengah) menurun dan jelas dari awal, dia dan Joleon sangat melindungi kami dan duet mereka sangat sangat penting bagi kami," pungkas Hodgson.