Showing posts with label EURO 2012. Show all posts
Showing posts with label EURO 2012. Show all posts

Tuesday, July 3, 2012

Spanyol versus Italia: Simulakra dan Kaki-kaki Lempung



Bagi Jorge Luis Borges, La Loteria en Babilonia hanya sekadar cerita. Tetapi tidak bagi Jean Baudrillard. Dari cerita Borges itulah ia mendapat inspirasi untuk menelaah gejala--sekaligus memberi kesimpulan tentang hidup pasca-modern.

La Loteria en Babilonia atau Lotere di Babilonia bercerita tentang bagaimana masyarakat Babilonia tidak hanya menggemari lotere, tetapi juga menaruh kepercayaan besar terhadap permainan tersebut. Borges, sastrawan buta dari Argentina tersebut, dengan cemerlang menggambarkan sebuah "konsepsi simulasi", yang bagi Baudrillard adalah sebuah deskripsi purna tentang apa yang kelak disebutnya sebagai "simulakra".

Kegemaran bermain lotere dalam masyarakat Babilonia yang ditulis Borges, perlahan bergeser fungsinya dari sekadar permainan menjadi sebuah mitos. Manusia secara perlahan mulai mempercayai lotere sebagai alat untuk menentukan hidup, di mana kemudian apa yang terjadi pada hidup melulu tergantung dengan hasil undian sebuah lotere yang mereka mainkan--di mana manusia kemudian menggantungkan hidupnya kepada benda tersebut.

Dari gambaran itulah, Baudrillard menerbitkan kesimpulan: Lotere menjadi membuat manusia jadi lupa perbedaan antara hidup yang nyata dan fantasi. Semua perbedaan menjadi sangat tipis. Dan itulah simulakra yang disebut Baudrillard: ketika lotere telah mendahului esensi hidup itu sendiri, manusia terjebak dalam realitas yang dianggapnya nyata, padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa.

Semua itu seperti Tiki-Taka Spanyol.

Sejak Luis Aragones memilih untuk meminggirkan nama besar Raul Gonzalez dan lebih memprioritaskan pemain-pemain "cebol" untuk ukuran manusia Eropa, ia seolah telah mengerti bahwa Spanyol tengah menuju dimensinya sendiri yang bergelimang kejayaan dan trofi.

Aragones, sebagaimana sikap Foucault yang mendistorsi doktrin pertentangan kelas ala Marxisme, telah menyadari bahwa dengan tiadanya Raul di skuad La Furia Roja, maka Kekuasaan (dengan "K" besar) tak lagi dimiliki oleh satu entitas (dalam hal ini Raul, pangeran Real Madrid yang disayang raja-raja Castillan itu), melainkan hasil dari relasi kompleks yang menyebar dan hadir di mana-mana.

Maka ia menerbitkan sebuah cetak biru permainan untuk pemain-pemain "cebol" macam Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Villa, hingga David Silva: bermain dengan umpan pendek tik-tak. Tak ada jenderal pengatur serangan, yang ada hanya perputaran arus bola, eksploitasi ruang-ruang kosong yang dihadirkan lawan yang hanya mampu bertahan, lalu kembali mengalirkan bola dengan cepat, memutari lapangan, dan... gol.

Itulah Tiki Taka, sebuah simulakra dalam sepakbola modern, di mana pemain lawan dijebak kedalam imaji ruang realitas yang dianggapnya nyata, padahal sesungguhnya tak pernah ada. Ketika Spanyol tengah mengalirkan bola dari kaki ke kaki, semua pemain sibuk bertukar posisi sabagai bagian dari usaha untuk terus membuka ruang pertahanan lawan.

Oleh karena itu, meski Spanyol selalu mendominasi penguasaan bola hingga bermenit-menit, mereka hanya perlu beberapa detik untuk menuntaskan semua. Dan itulah saat ketika pemain lawan telah terpedaya oleh simulakra Spanyol: ketika mereka berpikir tak akan mampu merebut bola dari Spanyol dan mengira bahwa mereka hanya mampu bertahan. Hal yang memang diinginkan Spanyol.

Serupa dengan apa yang diamini Baudrillard tentang simulakra dalam bukunya "Simulations", Tiki-Taka adalah strategi penyamaran tanda dan citra (disguising) yang sukses memproduksi segala sesuatu yang palsu (false) guna menciptakan kekacauan dan intermediasi dalam benak lawan.

Maka tak usah heran jika Spanyol intim dengan "False 9". Mereka memerlukan "pemain bernomor sembilan palsu", guna di plot sebagai kamuflase dalam pusat permainan mereka, yang tidak hanya menunggu umpan seperti Inzaghi menunggu bola muntahan, tetapi pemain "false 9" wajib terus bergerak, memecah belah pertahanan lawan lewat pergerakannya yang tak terduga.

Kita jelas perlu menunjuk satu nama dalam "false 9" ini. Ia adalah pemain "cebol" lain, Cesc Fabregas. Vicente Del Bosque jelas perlu Fabregas sebagai "false 9" untuk menciptakan realitas dengan citra-citra buatan, yang dengan sadar menjadikan dirinya sebagai fantasi untuk lawan, atau malah halusinasi yang menjadi kenyataan. Dan Fabregas beberapa kali berhasil melakukannya. Beberapa kali bek lawan ketakutan dan percaya bahwa ia adalah Eusebio yang mampu mencetak gol dengan cara apapun.

Spanyol, lewat Tiki Taka, adalah perpanjangan tangan simulakra di dunia sepakbola. Fabregas, dalam posisinya sebagai "false 9", adalah Derrida yang tengah memukul keras-keras martil dekonstruksi kepada wajah modernisme: di mana setiap paradigma modernitas dipertanyakan dan ditelanjangi--dalam hal ini peran usang striker yang hanya mampu menunggu umpan--untuk kemudian dijungkirbalikkan fungsi awalnya.

Di final Piala Eropa 2012 nanti, Spanyol bertemu lawan yang tepat: Italia. Sebuah negeri di mana sepakbola dirayakan dengan semangat modernitas yang kental, dengan sikap cuek terhadap patologi yang dihadirkan modernitas itu sendiri. Dalam hal ini, hegemoni atau status quo.

Lihatlah bagaimana Seri A mengharamkan pemain muda bersinar. Lihat pula bagaimana mereka justru lebih sering meraih gelar juara justru ketika sepakbola mereka ditelanjangi hukum dan borok mereka tercium dunia luar. Lihat pula bagaimana pada 2006 mereka jadi kampiun Piala Dunia dengan bermaterikan pemain-pemain uzur yang hendak terbenam macam Totti, Del Piero, Cannavaro... Serta seorang pemain yang waktu itu tengah berada dalam usia emas; Pirlo.

Italia memang tak peduli semangat-semangat mikro yang hadir dalam dunia pasca-modern. Mereka menolak asumsi rasio-kritis ala Kantian dan lebih bersemangat membicarakan sepakbola melalui kaki-kaki lempung yang telah didakwa akan segera menuju kepunahan. Dan untuk ini, kita perlu, sangat perlu, membicarakan sebuah masterpiece lain dalam sepakbola yang hanya hadir satu millennium sekali: Andrea Pirlo.

Sekali lagi: Andrea Pirlo, pemain yang tengah dianggap hendak menuju masa pensiun, tetapi justru membalikkan semua asumsi dengan permainan memukau. Pirlo adalah sesungguh-sungguhnya metronom. Geraknya anggun, umpan-umpannya indah. Kita seperti sedang melihat Leondardo da Vinci tengah melukisLa Gioconda di sebuah taman pada musim hangat yang sejuk di Firenze.

Bagi saya, Italia versus Spanyol adalah final ideal. Mari lupakan Jerman yang telah mengkhianati karakter Libero dalam sepakbola mereka. Lupakan pula betapa Inggris ternyata masih saja sibuk dengan WAGs dan media-media mereka yang megalomaniak.

Lalu Cristiano Ronaldo? Biarkan dia kembali ke salon dan menata ulang rambut tahun 50-nya itu. Sedangkan Belanda? Mereka sepertinya perlu menyuntikkan gen Johan Cruyff agar dapat kembali melakukan perzinahan intelektual di lapangan hijau. Dan, ah Prancis... sepertinya mereka perlu pergi ke Oprah Winfrey untuk berkonsultasi dan menangis bersama agar kembali rukun.

Mari sambut, meski Anda bukan partisipan kedua kubu, final berkelas ini:

Spanyol versus Italia.

Monday, July 2, 2012

Balotelli 'Si Tukang Pos'



 Pada mulanya adalah olok-olok, lalu puja-puji. Di Piala Eropa 2012, Mario Balotelli adalah cerita tersendiri. Ia sukses membungkam siapa saja yang menganggap dirinya tak lebih dari selebriti kampungan dengan mencetak tiga gol dalam turnamen empat tahunan tersebut.

Nama asilnya adalah Mario Barwuah. Tak ada darah Italia ditubuhnya. Orangtuanya, Thomas dan Rose Barwuah, asli dari Ghana. Bersama kedua orangtuanya itulah Balo pergi ke Italia dengan status imigran, tak lama setelah ia lahir, 12 Agustus 1990.

Hidup di negeri orang dengan keadaan ekonomi pas-pasan membuat orangtua Balo tak tahu hendak berbuat apa ketika ia sakit. Hingga kemudian sebuah keputusan yang kelak mengubah jalan hidupnya, terbit: Balo mendapat orangtua asuh bernama Fransesco dan Silvia Balotelli. Dari kedua orangtua asuhnya itulah Mario Barwuah mendapat nama Balotelli.

Lalu cerita pun dimulai.

Hidup di Italia menjadi dua sisi mata uang bagi Balo. Kita semua tahu, Balo berkulit hitam. Sementara kedua orangtua asuhnya adalah keturunan Yahudi. Sejarah mencatat, sebanyak kurang lebih 8.000 orang Yahudi mati dalam Holocoaust Italia jaman Benito Amilcare Andrea Mussolini, diktaktor fasis sekutu Adolf Hitler itu. Dan jangan tanya berapa banyak ras kulit hitam yang raib: bahkan koloni pertama Italia di bawah Mussolini adalah negara-negara di Afrika Timur.

Kenyataan tersebut membuat Balo tak sekali dua mendapat hinaan rasis dari orang lain. Sebelum Piala Eropa 2012 dimulai, di mana ancaman rasisme jauh lebih tinggi dibanding di Italia dalam era sekarang, Balo bersumpah akan "membunuh" siapa saja yang bertindak rasis terhadapnya.

Ketika rombongan tim nasional Italia sampai di Polandia, mereka melakukan kunjungan ke kamp pembantaian Nazi di Auschwitz. Di sana Balo tak mampu menahan getir. Bukan karena ia atau keluarga sedarahnya pernah mengalami masa kelam dengan Nazi. Tetapi karena ia ingat sebuah kotak.

Di dalam kotak tersebut berisi surat-surat yang berisi tentang cerita bahwa orangtua asuhnya adalah seorang Yahudi. Dari kotak itulah Balo mengetahui latar belakang orangtua asuhnya. Ia menemukan kotak surat tersebut di bawah tempat tidurnya. Sejak itu, Balo mulai intim dengan sejarah kelam Yahudi yang diceritakan orangtua asuhnya.

Balo sejatinya tak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun demi menjaga hal yang tidak diinginkan. Tetapi, menurut sebuah laporan dari Radio Netherlands Worldwide, Balo (akhirnya) menceritakan itu lantaran tak kuat menahan isak saat berada di kamp pembantaian Nazi di Auschwitz.

Kabar tersebut kemudian menyebar. Beberapa kelompok Neo-Nazi di Italia atau di luar Italia menganggap Balo--selain berkulit hitam--, juga keturunan Yahudi. Salah satu situs kelompok rasis-ekstremis di Italia, Stormfront, bahkan menulis: "Balotelli (berkulit) hitam dan (keturunan) Yahudi. Ia harusnya bermain untuk Israel, bukan Italia".

Salah satu media massa Italia pun belum lama ini, Gazzetta dello Sport, juga ikut membuat sikap rasis. Mereka menggambar kartun Balotelli yang tengah memukul keras bola dari puncak Big Ben, seperti King Kong di puncak Empire State Building.

Tetapi mental Balotelli sekuat otot-otot tubuhnya. Berkali-kali ia dihina, berkali-kali itu pula ia bangkit. Baginya, tak ada yang dapat menghalangi kecintaannya terhadap sepakbola. Ia pun memutuskan menjadi pesepakbola profesional. Dengan mengawali karir di klub Italia, Lumezzane. Lalu berlanjut ke Internazionale Milan. Dan kini ia adalah andalan Manchester City.

Cesare Prandelli lantas kepincut memanggilnya untuk ikut skuad Italia yang akan berlaga di Piala Eropa 2012. Prandelli tak peduli betapa Balo kerap kali berbuat onar di luar lapangan, bermasalah dengan sikap disiplin, dan sering bentrok dengan sesama pemain. Singkatnya, Prandelli percaya, di balik lagak angkuh Balo, akan ada gol-gol yang siap dicetak.

Dan Prandelli benar. Balo sukses menjadi pemain Italia pertama sekaligus pemain kulit hitam pertama yang sukses mencetak tiga gol di Piala Eropa 2012. Entah di mana fasis-fasis yang gemar menghinanya saat mengetahui fakta ini.

Pasca pertandingan melawan Jerman di semifinal, di mana Balo sukses mencetak dua gol untuk membuat Die Mannschaft angkat koper, ia berkata:

"Ini adalah malam terbaik saya sejauh ini dalam hidup."

Ketika banyak pemain Italia tengah bersuka cita karena telah menuju final Piala Eropa 2012, Balo justru pergi ke tribun penonton, menghampiri kedua orangtua angkatnya yang menontonnya sejak awal pertandingan. Balo lalu memeluk mereka, menangis bersama. Tangisan yang barangkali adalah tangisan paling indah baginya.

Pada momen sentimentil itu, ayah angkat Balo berkata akan membawakan cokelat untuknya pada saat laga final melawan Spanyol. Memberi Balo cokelat memang telah menjadi kebiasaannya, dan ia berharap cokelat tersebut dapat membuat performa Balo lebih baik.

Tetapi tidak semua doa adalah kenyataan. Italia dikandaskan Spanyol 0-4. Balo tak mencetak gol. Tak ada selebrasi. Toh ia pun jarang bikin selebrasi sehabis bikin gol. Dulu dia pernah berujar, tak perlu-perlu amat merayakan gol karena "tukang pos tak ada yang merayakannya setelah selesai mengantar surat".

Tapi setelah Italia dikalahkan Spanyol ia menangis sesengukan. Setelah ini Balo mungkin paham, bahwa tukang pos bisa juga menangis. Meski demikian, jika Balo adalah tukang pos, maka kedua orangtua angkatnya adalah sepasang merpati yang akan menemani Balo mencari alamat sampai di manapun.

Dan Senin dini hari tadi Balo mendapatkan sesuatu yang lebih dari piala: kedua orangtua angkat yang mencintainya dengan penuh seluruh.

Italia yang Gagal Mengulang, Spanyol yang Tetap Jadi Diri Sendiri



 Italia gagal mengulang keberhasilan mereka meredam Spanyol di pertemuan pertama mereka di fase grup. Di partai puncak taktik mereka gagal, dan Spanyol tetap menjadi diri sendiri yang memukau.

Itulah yang terjadi di laga final Piala Eropa tadi malam, yang berkesudahan 4-0 untuk Spanyol, hasil yang jauh berbeda dengan pertarungan mereka di babak grup yang berakhir sama kuat 1-1.

Cesare Prandelli hanya melakukan satu perubahan kecil pada susunan pemain belakang dengan menurunkan kembali Ignazio Abate, mengganti Federico Balzaretti di posisi fullback kiri. Tidak ada perubahan susunan pemain di sektor tengah dan depan Italia. Pola 4-1-3-2 yang dipasang ketika mengalahkan Jerman 2-0 di semifinal kembali dimainkan menghadapi Spanyol.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Prandelli, Vicente Del Bosque juga tidak melakukan kejutan apa-apa dalam pemilihan pemain di strating line up Spanyol. Cesc Fabregas kembali masuk di tim utama setelah di partai semifinal melawan Portugal, Del Bosque sempat membuat kejutan dengan memasang Alvaro Negredo di formasi inti.

Del Bosque kembali memainkan 4-3-3 andalannya yang sering bertransformasi menjadi 4-2-4-0 di tengah pertandingan dengan poros dua pivot di depan bek yaitu Sergio Busquets dan Xabi Alonso. Ia kali ini kembali memilih opsi memainkan striker yang bukan striker pada diri Fabregas.

Friday, June 29, 2012

Memang Selalu Balotelli



Kiev - Sosok Mario Balotelli memang tak pernah lepas dari sorotan. Saat memperkuat Manchester City, pemain berjuluk 'Super Mario' itu pun sampai harus bertanya: Why always me?

Sejumlah aksi kontroversial pernah diperbuat Balotelli saat di luar lapangan. Mulai dari kasus bermain kembang api di dalam rumah, hingga membagi-bagikan uang dengan menjadi Sinterklas di hari Natal.

Pun begitu, performanya di atas lapangan juga patut untuk mendapatkan pujian. Balotelli kerap mendapatkan sanjungan karena menjadi penentu kemenangan tim.

Contoh performa gemilang paling anyar dari Balotelli terjadi dalam laga semifinal Piala Eropa saat Italia melawan Jerman di National Stadium, Warsawa, Jumat (29/6/2012) dinihari WIB. Ia mengemas dua gol yang mangantarkan Gli Azzurri ke laga final usai memetik kemenangan tipis 2-1.

Gol pertama dikemas Balotelli melalui sundulan kepala, sementara satu lagi lewat tendangan akurat kaki kanan yang bersarang di pojok kiri gawang Die Mannschaft yang dikawal oleh Manuel Neuer.

Sumbangan dua gol pemain 21 tahun itu seakan menjadi tebusan di pertandingan sebelumnya saat Italia melawan Inggris. Sebabnya, ia tak bermain maksimal setelah membuang banyak peluang mencetak gol.

Atas penampilan ciamiknya itu, Balotelli menegaskan diri sebagai striker Italia paling tajam di Polandia-Ukraina dengan tiga gol yang sudah dia bikin.

Menengok pada selebarasi gol Balotelli laga derby Manchester antara Manchester City dan Manchester United di bulan Oktober tahun lalu, dia membuka jersey untuk menujukkan tulisan 'Why always me?'.

Atas pertanyaan itu, inilah jawaban dari pelatih timnas Italia, Cesare Prandelli.

"Balotelli sangat bagus seperti tim secara keseluruhan. Saya benar-benar membutuhkan tim yang mempunyai ide, dan Balotelli selalu memiliki itu," jelas Prandelli di situs resmi UEFA.

"Dia selalu ada, terus berlari di lapangan dan melaksanakan tugas dengan baik. Dia ada dalam pertandingan, dia sangat fokus, berkonsentrasi, dan melakukan seperti apa yang saya perintahkan kepadanya.

"Saya memilihnya karena saya melihat dia berjuang dan tidak mau mengambil resiko padanya. Saya bangga dengan pemain ini -- Saya tidak ingin semua ini menjadi tentang diri saya," tandasnya.

Penalti Pertama yang Luar Biasa untuk Pique



Gdansk - Tendangan penalti Gerard Pique ke gawang Portugal ternyata merupakan eksekusi pertama dia sepanjang karier profesional di pertandingan resmi. Pique pun mengaku antusias dengan tembakannya.

Pique menjadi penendang penalti ketiga saat Spanyol dan Portugal berhadapan di semifinal Euro 2012. Penunjukkan Pique sebagai salah satu algojo bisa dibilang mengejutkan karena dia ternyata sama sekali belum pernah menendang penalti di ajang resmi.

Menurut catatan Marca, Pique harus menunggu 277 pertandingan resmi sebelum akhirnya melepaskan tendangan penalti pertamanya dalam laga tersebut. Rangkaian tersebut berlangsung sejak dia masih di Manchester United, Real Zaragoza, Barcelona dan tentunya timnas Spanyol.

Meski baru sekali mengeksekusi penalti, Pique melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Dia berhasil memaksa kiper Portugal memungut bola dari gawangnya. Dan di akhir laga, penalti dari bek 25 tahun itu membantu mengantar La Furia Roja jadi pemenang.

"Itu adalah (penalti) yang pertama buat saya. Saya percaya diri dan sudah berlatih sebelumnya. Perasaannya sangat luar biasa. Untuk inilah kami bertanding," sahut Pique dalam sebuah program televisi.

Di Barcelona Pique tak pernah dapat kesempatan penalti karena pemain yang ditunjuk sebelumnya adalah Samuel Eto'o, David Villa, Lionel Messi atau Zlatan Ibrahimovic. Sementara di timnas Spanyol, kepercayaan tersebut biasanya diberikan pada Villa.

Spanyol Tak Menyesal 'Bantu' Loloskan Italia


Krakow - Spanyol punya peluang mendepak Italia dari Euro 2012 di matchday terakhir fase grup. Kalau kini Gli Azzurri akan kembali jadi lawan di babak final,La Furia Roja sama sekali tak menyesali hal tersebut.

Spanyol butuh hasil imbang 1-1 atau 2-2 saat menghadapi Kroasia di pertandingan terakhir Grup C. Dengan hasil tersebut Iker Casillas terjamin lolos ke delapan besar dan pada saat bersamaan mendepak Italia dari kompetisi, apapun hasil laga Azzurri kontra Republik Irlandia.

La Furia Roja sendiri akhirnya memetik kemenangan 1-0 dengan susah payah. Dengan Italia juga menang 2-0 atas Republik Irlandia, maka dua posisi teratas Grup C jadi punya dua tim unggulan tersebut.

Setelah melewati jalannya masing-masing, Spanyol dan Italia akan kembali berhadapan di final. Mempertimbangkan permainan anak didik Cesare Prandelli semakin membaik dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, Spanyol dianggap dalam ancaman serius untuk bisa mempertahankan titelnya.

Meski begitu, pelatih Spanyol Vincente Del Bosque menegaskan kalau pihaknya sama sekali tak menyesal dengan kemenangan yang sudah dipetik atas Kroasia.

"Kami tidak pernah menyesal tidak bermain imbang dengan Kroasia untuk bisa menggugurkan Italia. Itu bukan sesuatu yang baik untuk olahraga. Italia dan kami sendiri telah menjalani kehidupan pararel dan kami sekarang harus berada pada level yang dibutuhkan untuk sebuah laga final," sahut Del Bosque di Football Italia.

"Saat kami menghadapi Italia di pertandingan pertama, Antonio Cassano bilang ke asisten pelatih saya Toni Grande kalau kami akan bertemu lagi di final dan beginilah ceritanya," lanjut dia.

Dengan pertemuan pertama kedua tim berkesudahan 1-1, Del Bosque menyebut kalau kondisi kedua tim di final bakal sangat berbeda.

"Fakta bahwa kami saling berhadapan di fase grup tidak menunjukkan kondisi pertandingan secara keseluruhan."

"Mereka tim dengan banyak sekali pengalaman dan berpusat pada Andrea Pirlo dan Daniele De Rossi di tengah lapangan. Poros mereka adakah koneksi antara Pirlo dan Mario Balotelli," tuntas pelatih 61 tahun itu.

Singkirkan Jerman, Italia ke Final



Warsawa - Italia melangkah ke babak final setelah menyingkirkan salah satu tim favorit, Jerman. Gli Azzurri memetik kemenangan 2-1 dan akan menghadapi Spanyol di babak final.

Dalam laga yang dimainkan di National Stadium, Jumat (29/6/2012) dinihari WIB, Italia membuka keunggulan di menit ke-20 lewat sundulan Balotelli. Penyerang Manchester City itu kemudian mencetak satu gol lagi di menit ke-36 untuk memberi keunggulan 2-0 bagi Italia.

Di babak kedua, Jerman memperkecil ketinggalan lewat eksekusi penalti Mesut Oezil. Hingga peluit panjang berbunyi, Italia mampu mempertahankan keunggulan 2-1 atas Jerman.

Dengan demikian maka Italia akan menghadapi Spanyol di babak final. Spanyol sudah memastikan satu tempat di babak final satu hari sebelumnya setelah menyingkirkan Portugal lewat adu penalti.

Jalannya Pertandingan
Jerman mengancam gawang Italia saat laga berjalan lima menit. Lewat sebuah sepak pojok, Hummels menyambut bola namun masih mengenai Pirlo yang berdiri di depan gawang.

Kemelut di depan gawang Italia nyaris menghasilkan gol bunuh diri bagi Italia. Boateng melepaskan umpang ke depan gawang. Buffon mampu menepisnya namun bola mengenai Barzagli. Beruntung bagi Italia, bola pantulan itu masih menyamping di sisi kiri gawang Buffon.

Percobaan Toni Kroos dari luar kotak penalti belum membuahkan hasil. Tembakannya masih mampu ditepis dengan baik oleh Buffon.

Italia balik menyerang. Kali ini giliran Montolivo yang mencoba melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Namun bola masih mampu ditangkap oleh Neuer. Begitu juga dengan upaya Cassano tak lama kemudian.

Gol! Italia membuka keunggulan di menit ke-20. Menyerang dari sisi kiri, Cassano memutar badan dan melewati dua pemain belakang Jerman dan kemudian melepaskan umpan ke dalam kotak penalti. Balotelli menyambutnya dengan sebuha sundulan yang merobek gawang Manuel Neuer.

Jerman membangun serangan dari sisi kiri. Boateng mencoba melepaskan umpan kepada Podolski namun Balzareti menghalaunya dan hanya menghasilkan sepak pojok untuk Jerman.

Khedira! Sepakannya dari luar kotak penalti masih mampu dihalau Buffon.

Italia menggandakan keunggulan di menit ke-36. Menerima umpan dari Riccardo Montolivo, Balotelli yang lepas dari jebakan offside melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihalau Neuer.

Hingga turun minum, Italia mampu mempertahankan keunggulan 2-0 atas Jerman.

Memasuki babak kedua, Jerman lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Reus yang masuk menggantikan Podolski bergerak dari sisi kanan dan masuk ke dalam kotak penalti. Namun penyelesaian akhirnya masih mampu diamankan oleh Buffon.

Jerman kembali membangun serangan. Sepakan Lahm menyelesaikan kerja sama satu-dua dengan Reus masih melambung di atas mistar gawang Buffon.

Balotelli! Bergerak dari sisi kanan, Balotelli kemudian melepaskan tembakan. Tapi bola masih melenceng dari sasaran.

Jerman mendapat peluang lewat tendangan bebas di menit ke-62. Namun eksekusi Reus masih mampu dihalau oleh Buffon.

Italia balik mengancam di menit ke-67. Diamanti mengirim bola pada Marchisio. Namun sepakan Marchisio masih menyamping di sisi kiri gawang Neuer.

Marchisio! Usai mengecoh Badstuber, Marchisio melepaskan tembakan. Tapi bola masih bergulir di samping gawang Jerman.

Italia kembali dapat peluang. Lepas dari jebakan offside, Di Natale tinggal berhadapan dengan Neuer. Namun bola sepakannya masih luput dari sasaran.

Kroos! Sepakannya dari luar kotak penalti masih melayang di atas mistar gawang Buffon.

Jerman memperkecil ketertinggalan di akhir babak kedua. Wasit menunjuk titik putih setelah Balzaretti melakukan handsball di kotak penalti. Oezil yang maju sebagai eksekutor sukses melaksanakan tugasnya.

Hingga peluit panjang berbunyi, Italia mampu mempertahankan keunggulan 2-1 atas Jerman dan berhak melangkah ke final.

Susunan Pemain
Jerman: Neuer, Boateng (Mueller 71'), Hummels, Badstuber, Lahm, Khedira, Schweinsteiger, Kroos, Ozil, Podolski (Reus 46'), Gomez (Klose 46')

Italia: Buffon, Balzaretti, Barzagli, Bonucci, Chiellini, Marchisio, Pirlo, De Rossi, Montolivo (Motta 63'), Cassano (Diamanti 57'), Balotelli (Di Natale 69')

Buffon Sempat Dibuat 'Marah' oleh Lini Belakang Italia



Warsawa - Italia memang berhasil melangkah ke final usai menundukkan Jerman di semfinal. Namun Gianluigi Buffon sempat dibuat ketar-ketir oleh lini belakang Italia di sisa lima menit terakhir pertandingan.

La Nazionale berhasil mengalahkan Jerman di babak semifinal yang dimainkan di National Stadium, Jumat (29/6/2012) dinihari WIB, dengan skor 2-1. Dua gol Mario Balotelli hanya mampu dibalas satu oleh Mesut Oezil.

Die Mannschaft harus rela angkat koper dari Polandia-Ukraina. Sementara Italia akan bertarung melawan Spanyol yang telah lebih dulu berada di final.

Setelah meraih keunggulan 2-0 di babak pertama, Italia lebih cenderung bermain bertahan. Meski sesekali melakukan serangan balik yang sempat mengancam kembali gawang Manuel Neuer, Italia harus bermain defensif untuk menahan gempuran Sami Khedira dkk.

Di lima menit terakhir, beberapa kali gawang Buffon malah terancam. Hal inilah yang membuat kapten Italia ini 'marah'. Ia khawatir Jerman akan mampu membalikkan keadaan.

"Kami bermain untuk sesuatu benar-benar bergengsi. Sehingga tidak tepat bila dalam lima menit menjelang pertandingan tersebut kami bermain dengan penuh resiko," kata Buffon seperti termaktub di Football Italia.

"Bila mereka mencetak gol keberuntungan untuk mengubah skor 2-2, kami bisa saja menderita kekalahan (dengan skor) 9-2 pada perpanjangan waktu. Kami bermain di Piala Eropa dan tidak bisa mengambil risiko," lanjut kiper Juventus ini.

"Saya selalu mengevaluasi penampilan dan sikap daripada hanya membahas soal menang atau kalah. Sebagian besar dari kami masih muda dan perlu belajar. Akan tepat jika pemain yang lebih tua mengingatkan kepada yang lebih muda agar tak menimbulkan masalah."

Meski demikian, Buffon mengatakan bahwa Italia telah melakoni pertandingan dengan hebat dan bisa saja menang dengan skor lebih besar.

"Kami memainkan pertandingan yang hebat dan bisa saja menang dengan skor yang lebih besar. Tapi ada kalanya kami membuat insiden buruk. Beruntung, pertandingan ini berjalan baik bagi kami," tutup sang kapten.

Dari 'Super Mario' untuk Sang Ibu



Warsawa - Mario Balotelli tampil sebagai pahlawan lewat dua golnya saat mengalahkan Jerman di semifinal. Dua gol 'Super Mario' persembahkan untuk ibunda yang menonton langsung aksinya tersebut.

Cuma satu gol yang dicetak Balotelli sebelum laga semifinal di National Stadium Warsawa, Jumat (29/6) dinihari WIB. Balotelli melakukannya di laga kontra Republik Irlandia di mana Italia menang 2-0.

Selebihnya Balotelli tercatat sebagai pemain kedua paling banyak memiliki shot on target yakni 12 dan itulah kemudian yang membuat striker bengal ini banyak mendapat kritik karena kerap membuang-buang peluang.

Tapi di laga kontra Jerman barusan, Balotelli menunjukkan kelasnya sebagai salah satu striker top Eropa. Dua gol dibuatnya ke gawang Manuel Neuer untuk membawa Italia leading 2-0 sebelum akhirnya Mesut Oezil memperkecil jadi 1-2 di penghujung laga.

Italia melaju ke final dan akan menantang juara bertahan Spanyol akhir pekan nanti. Sebuah momen fantastis untuk Balotelli yang usai pertandingan tampak berjalan ke tribun untuk menghampiri seorang wanita paruh baya dan memeluknya erat. Ya wanita itu adalah orang tua angkat pesepakbola 22 tahun itu.

"Di akhir laga ketika saya berjalan menghampiri ibu saya dan itu adalah momen terbaik. Saya bilang padanya bahwa gol ini untuknya," sahut Balotelli di Football Italia.

"Saya sudah menunggu lama untuk momen seperti ini, khususnya ketika ibu saya tidak lagi muda dan tidak bisa berpergian jauh. Jadi saya harus membuatnya bahagia ketika dia datang jauh-jauh ke sini. Ayah saya juga akan hadir di laga final," sambungnya.

"Sebelum laga ada ibu saya, saudara saya, kakak ipar saya dan sahabat saya di pinggri lapangan. Didampingi orang-orang terdekat dan tersayang bikin saya semangat. Lagu apa yang saya dengarkan sebelum pertandingan? Drake. Dia adalah sahabat saya," pungkas Balotelli.

Dengan dua gol ini, Balotelli sudah mencetak tiga gol dan berpeluang menjadi topskorer apabila mencetak satu gol di laga final yang akan dihelat di Olympic Stadium Kiev.

Thursday, June 28, 2012

Inggris vs Italia: Utopia versus Realisme



Jakarta - Banyak orang mengernyitkan dahi saat coba mengingat kapan Inggris terakhir kali bertemu Italia. Walau bukan rival berat seperti Jerman-Belanda, Italia dan Inggris punya sisi menarik dari perbedaan kental akan filosofi sepakbola.

Bukan hal mengherankan ketika Italia memastikan diri bertemu Inggris di perempat final. Ya, rivalitas keduanya bukan seperti rivalitas antara Jerman-Belanda yang dilatarbelakangi sejarah perang dunia. Pun bukan seperti Argentina-Brasil yang memperebutkan status negara penguasa sepakbola di satu benua.

Walau kedua negara ini menjadi kiblat sepakbola Eropa dan dunia, Inggris dan Italia sendiri jarang dipertemukan di level kompetisi tertinggi. Rivalitas sonder pertemuan. Sepi.

Tapi, bukan berarti partai perempat final kali ini tidak menghadirkan tensi tinggi antara keduanya. Perbedaan filosofi sepakbola acap kali mengakibatkan suporter negara-negara ini beradu argumen dan saling mencerca.

Fans dan jurnalis Inggris sering memberi label pada sepakbola Italia sebagai sepakbola yang kotor, malas, defensif, dan penuh kecurangan. Sementara suporter dan media Italia menilai Inggris memainkan sepakbola yang terlalu naif dan jujur.

Utopia versus Realisme

Kultur di atas lapangan, atau di tribun stadion, tak bisa lepas dari budaya yang berkembang di masyarakat bersangkutan. Sebagian nilai dalam sepakbola Inggris berasal dari nilai etika protestan yang memiliki respek akan hukum dan peraturan. Nilai-nilai yang sama mengajarkan bahwa kerja keras dan kejujuran adalah nilai tertinggi yang dapat dimiliki oleh seseorang.

Sementara Italia memiliki kultur berbeda, yaitu kultur yang mengenal konsep peraturan adalah konsep relatif. Bahwa perbedaan antara kebenaran dan kebohongan, antara fair-play dan kecurangan, tidak selamanya hitam dan putih. Ada ruang-ruang untuk imajinasi dan interpretasi di sana.

Perbedaan nilai-nilai inilah yang menjadikan kedua negara melihat pertarungan di lapangan hijau dengan dua kacamata berbeda.

Suporter Inggris sering menyamakan pertarungan di lapangan layaknya duel; pertarungan sampai mati. Saat Inggris pergi berperang, mereka pergi dengan prinsip lebih baik mati dari pada menyerah di medan perang. Kalaupun kalah, mereka akan mati dengan tenang jika mengetahui bahwa mereka telah berjuang dengan jujur dan memberikan segalanya. Nilai-nilai yang sama juga dipegang oleh kelas pekerja sosialis di Inggris.

Sementara Italia, dan banyak negara Latin lainnya, melihat sepakbola sebagai pertarungan di hutan rimba, di mana mempertahankan diri dinilai lebih penting daripada nilai-nilai. Mereka akan menggunakan segalanya untuk tidak kalah, bahkan jika itu berarti bermain di daerah abu-abu.

Maka jangan heran jika tipe sepakbola yang Italia usung adalah sepakbola yang penuh kalkulasi dan strategi. Pesepakbola Italia bertarung tidak hanya dengan kakinya, tapi juga dengan otaknya, dengan imajinasinya, dengan emosinya, dengan hatinya, dengan tangannya, bahkan dengan matanya.

Mereka akan menghitung kelemahan terbesar lawan dan mengeksploitasinya, walau itu dilakukan dengan mengacaukan emosi dan psikologis musuhnya.

Andrea Tallarita, dalam kolom brilliannya “Understanding Italian Football", mengilustrasikan kedua perbedaan kultur ini dengan baik. Orang Inggris memiliki Sir Gawain, keponakan Raja Arthur dan salah seorang ksatria meja bundar terhebat, sebagai pahlawan. Sementara Italia mengidolai Ulysses, penasihat raja Ithaca yang cerdik dan berhasil menang dalam perang karena trik tipuan kuda Troya-nya.

Kultur sepakbola yang satu akan selalu berjuang mencapai utopia yaitu saat kemenangan dicapai melalui kejujuran. Sementara kultur yang lain mengakar pada realita.

Pertarungan di lapangan: Fantasisti versus Pemain Sayap

Kata "imajinasi" mungkin jadi kata yang tepat untuk menggambarkan filosofi sepakbola Italia di lapangan. Hal ini dikarenakan kultur sepakbola mereka, yang sarat dengan taktik dan kalkulasi, memaksa tim-tim Italia untuk memiliki imajinasi untuk membongkar strategi.

Adalah peran seorang fantasisti, yang secara harafiah diartikan sebagai "pekerja imajinasi", untuk menyediakan kreativitas di lapangan. Mereka yang diberi anugrah kemampuan sebagai seorang fantasisti bahkan dianggap setengah dewa oleh suporter Italia. Dari masa ke masa Italia pun telah menghasilkanfantasisti yang selalu dikenang seperti Gianni Rivera, Gigi Meroni, Roberto Baggio, Francesco Totti, atau Alessandro Del Piero.

Fantasisti sendiri bukan merupakan satu posisi khusus yang ditempati oleh seorang pemain. Lewat kolomnya lagi, Andrea Tallarita menjabarkan bahwa fantasisti adalah kemampuan seorang pemain untuk melihat kapan saat jendela kesempatan, untuk menyergap lawan secara tiba-tiba, terbuka.

Bak seorang pesulap yang mengubah tongkat menjadi bunga dalam sekejap mata, seorang fantasisti dapat menipu lawannya untuk melakukan gerakan atau koreografi yang tak terduga. Di Piala Eropa ini perhatikanlah Antonio Cassano. Berbeda dengan Pirlo, sering kali umpan atau tendangan yang Cassano lakukan bukan lahir secara metodik. Seolah berontak pada aturan kapan dan bagaimana suatu umpan harus dilakukan.

Walau tak memiliki padanan kata dalam bahasa lain, fantasisti sendiri tidak dimonopoli pemain berkebangsaan Italia. Rui Costa, Zinedine Zidane, Yuri Djorkaef, atau Kaka, datang ke Seri A kemudian pulang dengan meninggalkan jejak sebagai fantasisti yang akan selalu dikenang.

Namun, dalam sejarah panjang sepakbola Inggris, kehadiran fantasisti asli Inggris sendiri dapat dihitung dengan sebelah tangan. Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne adalah beberapa di antaranya.

Berbeda dengan Italia, peran dalam permainan sepakbola Inggris berasal dari pakem tradisional yang sulit tergantikan hingga saat ini.

Aturannya mudah: pemain bertubuh besar digunakan sebagai striker utama dan pemain tengah. Pemain dengan kecerdasan tinggi ditempatkan sebagai striker kedua. Pemain yang sulit untuk dijatuhkan melakoni peran sebagai pemain belakang, dan pemain dengan kecepatan tinggi diposisikan sebagai pemain sayap.

Pakem-pakem ini menyebabkan Inggris menghasilkan tipe-tipe pesepakbola yang sama dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah pemain sayap.

Selain Portugal, di Eropa Inggris memang jadi negara yang rutin menghasilkan pemain sayap, baik itu pemain sayap murni (pemain berkaki kanan ditempatkan di sayap kanan, dan sebaliknya), maupun wingeryang bergerak menusuk ke dalam atau lebih dikenal dengan inverted winger. 

Generasi saat ini mengenal nama-nama seperti Ashley Young, James Milner, Stewart Downing, Theo Walcott, atau Adam Johnson. Sementara pada periode 90-an ada David Beckham, Ryan Giggs (dibesarkan di Liga Inggris), Steve Mcmanaman, ataupun John Barnes.

Pemain sayap ini digadang-gadang menjadi kunci kesuksesan sebuah klub yang ingin merajai Liga Inggris. Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan Alex Ferguson di Manchester United. Walau membuang David Beckham dari klubnya, Ferguson tak pernah gagal menghadirkan kembali serentetan pemain sayap kelas dunia di Manchester. Mulai dari Giggs, Cristiano Ronaldo, Nani, hingga kini Ashley Young berhasil ia didik. Beberapa di antaranya mampu membawa MU meraih piala demi piala di Liga Inggris.

Seperti halnya Inggris yang jarang memproduksi seorang fantasisti, sepakbola Italia pun jarang menghasilkan seorang pemain sayap. Paling banter tim-tim Italia menggunakan seconda punta (striker kedua), yang memiliki kecepatan tinggi, sebagai penyerang yang ditempatkan di sayap dalam formasi 4-3-3.

Hal ini juga diperparah dengan diadopsinya formasi 4-2-3-1 dan 4-3-1-2 oleh klub-klub serie-A dalam satu dekade terakhir. Formasi ini menitikberatkan pada peran central-midfielder sehingga para pemain sayap jarang mendapatkan panggung.

Walau kehadiran pemain sayap Inggris pada Piala Eropa ini kurang bersinar, setidaknya ada 4 gol Inggris berasal dari area sayap kanan lapangan. Di kubu Italia sendiri peran sentral Cassano dalam membuka ruang dan memberikan umpan matang pada Balotelli tak terbantahkan.

Menarik untuk diamati apakah kedua kulminasi kultur sepakbola yang berbeda ini dapat jadi titik awal rivalitas panjang antara Inggris dan Italia.

Lewat Adu Penalti, Spanyol Pulangkan Portugal





Spanyol melaju ke final Piala Eropa setelah menang adu penalti 4-2 atas Portugal pada laga semifinal di Donbass Arena, Donetsk, Rabu (27/6/2012). Adu penalti dilakukan karena kedua kubu bermain 0-0 hingga akhir babak tambahan.
Berikut ini adalah urutan eksekutor penalti.
0-0  Xabi Alonso (Spanyol) - gagal - tembakan ke kanan bawah gawang ditepis Rui Patricio
0-0 Joao Moutinho (Portugal) - gagal - tembakan ke kanan bawah gawang ditepis Iker Casillas
0-1 Andres Iniesta - gol - tembakan ke kiri bawah gawang
1-1 Pepe - gol - tembakan ke kanan bawah gawang
1-2 Gerard Pique - gol - tembakan ke kanan bawah gawang
2-2 Nani - gol - tembakan ke kanan atas gawang
2-3 Sergio Ramos - gol - tembakan ke tengah gawang
2-3 Bruno Alves - gagal - tembakan mengenai mistar gawang
2-4 Fabregas - gol - tembakan masuk setelah mengenai tiang kanan gawang
Spanyol mendominasi penguasaan bola, tetapi kesulitan mengalirkan serangan hingga tuntas. Mereka belum menemukan solusi ketika Portugal menyelipkan serangan yang berujung tembakan Ronaldo pada menit ke-24.

Tembakan Ronaldo meleset dari sasaran, tetapi Portugal cukup mampu mempertahankan tekanan mereka. Meski lama dan tak sampai berada dalam situasi sangat berbahaya, Spanyol sempat kerepotan mengatasi tekanan Portugal.

Menjelang menit ke-30, Spanyol baru bisa keluar dari tekanan Portugal dan melancarkan serangan. Usaha kali ini membuahkan tembakan dari Andres Iniesta, yang meleset dari sasaran.

Portugal bergerak cepat membalas. Setelah merebut bola dari Jordi Alba, Joao Moutinho mengirimkan bola kepada Ronaldo. Ronaldo kemudian melepaskan tembakan yang membuat bola melesat ke sisi kanan gawang Iker Casillas.

Setelahnya, permainan berjalan lebih terbuka. Namun, kedua kubu sama-sama tak menemukan solusi, sampai peluit turun minum berbunyi.

Pertandingan di babak kedua berlangsung lebih terbuka. Spanyol tampak mencoba bermain lebih lugas dan Portugal mempertahankan agresivitasnya. Namun, mereka sama-sama kesulitan menciptakan ruang tembak dan peluang.

Hugo Almeida mencoba memecah kebuntuan dengan tembakan dari jarak sekitar 23 meter pada menit ke-58, tetapi tembakannya melesat ke atas gawang Spanyol.

Usaha berikutnya dilakukan Spanyol melalui Xavi pada menit ke-68. Namun, tembakannya mengarah tepat ke Rui Patricio.

Portugal membalas itu dengan dua eksekusi tendangan bebas pada menit ke-73 dan ke-84. Namun, keduanya melesat ke atas gawang Casillas.

Menjelang injury time, Ronaldo kembali mendapatkan kesempatan dan gagal memanfaatkannya. Menguasai bola tanpa pengawalan berarti di dalam kotak penalti, ia melepaskan tembakan yang melambung jauh dari sasaran.

Spanyol tampak lebih baik di babak kedua. Selain bisa mencegah lawan bergerak menyerang, mereka juga lebih konsisten mengalirkan serangan hingga tuntas.

Pada menit ke-96 dan ke-104, misalnya, Andres Iniesta melepaskan tembakan. Sementara usaha pertamanya diblok Bruno Alves, percobaan keduanya dijinakkan Rui Patricio.

Pada menit ke-110 dan ke-111, Cesc Fabregas dan Jesus Navas juga mencoba mencetak gol. Sementara tembakan Fabregas diblok Bruno Alves, tembakan Navas kandas di tangan Patricio.

Portugal sendiri beberapa kali mencoba menyelipkan serangan. Namun, usaha mereka banyak kandas di tengah jalan. Setelahnya, mereka kesulitan menutup ruang sehingga beberapa kali hampir kebobolan.
Menurut catatan UEFA, hingga akhir babak tambahan, Spanyol menguasai bola sebanyak 45 persen dan menciptakan lima peluang emas dari 11 kali usaha. Adapun Portugal melepaskan dua tembakan akurat dari sepuluh kali percobaan.

Susunan pemain:
Portugal (4-3-3): 
12-Rui Patricio; 2-Bruno Alves, 3-Pepe, 5-Fabio Coentrao, 21-Joao Pereira; 4-Miguel Veloso (6Custodio Dias de Castro 105), 8-Joao Moutinho, 16-Raul Meireles (18-Varela 113); 7-Cristiano Ronaldo, 9-Hugo Almeida (11-Nelson Miguel Castro Oliveira 81), 17-Nani

Spanyol (4-3-3): 1-Iker Casillas; 15-Sergio Ramos, 3-Gerard Pique, 18-Jordi Alba, 17-Alvaro Arbeloa; 16-Sergio Busquets, 14-Xabi Alonso, 8-Xavi (17-Pedro 87); 6-Andres Iniesta, 11-Alvaro Negredo (10-Cesc Fabregas 54), 21-David Silva (22-Jesus Navas 60)

Wasit: Cuneyt Cakir

Monday, June 25, 2012

Strategi Bertahan Inggris Justru Bikin Rooney Tak Berkutik



Wayne Rooney tak banyak memberi kontribusi saat Inggris kalah dari Italia. Minimnya peran striker Manchester United itu disebabkan oleh kesalahan Inggris sendiri, yang memilih bermain bertahan.

Meski memasang dua striker yakni Rooney dan Danny Welbeck, Inggris cenderung memainkan pola bertahan saat berhadapan dengan Italia. Di atas lapangan The Three Lionsmenarik banyak pemainnya jauh ke belakang, sebagaimana dilakukan Roy Hodgson kala menghadapi Prancis.

Strategi itu terbukti jitu hingga laga yang berlangsung di Kiev National Stadium, Senin (25/6/2012) dinihari WIB itu harus diselesaikan dengan babak adu tendangan 12 pas. Malang bagi tim asuhan Roy Hodgson itu, babak tos-tosan tak berjalan sesuai rencana.

Inggris kalah di babak ini setelah dua penendangnya, Ashley Young dan Ashley Cole, gagal mencetak gol. Sementara di pihak Gli Azzurri, cuma Riccardo Montolivo yang gagal menunaikan tugasnya dengan baik. Inggris tersingkir dengan skor akhir 2-4.

Atas strategi defensif yang diterapkan Inggris, bek Italia, Leonardo Bonucci menyatakan bahwa hal itu memberikan satu keuntungan tersendiri bagi timnya. Sebabnya dengan cara bermain seperti itu, ketajaman yang dimiliki Rooney tak dapat tereksploitasi dengan baik.

"Rooney tak berkutik saat menghadapi kami, disebabkan oleh taktik Inggris, karena dia harus banyak berlari ke belakang dan itu membuat dia lelah," jelas Bonucci di Football Italia.

Faktanya bukan Rooney saja yang jadi tidak efektif akibat strategi defensif Inggris tersebut. Dengan Welbeck juga harus naik turun membantu pertahanan, striker belia itu juga tak bisa berkontribusi besar pada timnya.

"Jerman tampil luar biasa di putaran final Piala Eropa dan babak kualifikasi, namun kami harus fokus untuk mengisi ulang baterai kami dan bersiap untuk semifinal. Sekarang kami di sini, kami ingin mengambil kesempatan kami," jelas asal bek Juventus itu terkait pertemuan dengan Jerman di babak semifinal.

"Semua pemain yang kami hadapi adalah pemain top di level ini, jadi kami menghadapi Mario Gomez dengan pendekatan yang sama seperti yang kami lakukan kepada Rooney, (Danny) Welbeck, atau (Andrew) Carrol," tegasnya.

'Balotelli Bakal Perbaiki Finishing-nya'



Kiev - Dalam laga melawan Inggris, Mario Balotelli punya banyak peluang. Namun, lantaran finishing yang buruk, penyerang klub Manchester City tetap saja gagal mencetak gol.

Secara keseluruhan, Gli Azzurri memiliki banyak peluang sepanjang 120 menit. Italia melepaskan 36 tembakan sepanjang laga dan 20 di antaranya tepat sasaran. Sementara Inggris hanya sembilan dan empat yang tepat sasaran.

Dari seluruh 36 tembakan tersebut, 11 di antaranya berasal dari Balotelli. Oleh situs resmi UEFA, bomber berusia 21 tahun tersebut dicatat punya 7 tembakanon target dan 4 tembakan off target. Namun, hasilnya nihil gol.

Peluang-peluang Balotelli mentah di tangan Joe Hart, gagal menemui sasaran, dan salah satunya juga sempat diblok oleh John Terry.

Oleh Andrea Pirlo, Balotelli dinilai membuat beberapa kesalahan dalam melakukan penyelesaian akhir. Namun, gelandang yang akhirnya dinobatkan menjadi man of the match itu meyakini bahwa Balotelli bakal memperbaikinya.

"Mario Balotelli bekerja keras dan membantu rekan setim yang lain. Dia membuat beberapa kesalahan dalam melakukan penyelesaian akhir. Tapi, dia punya kualitas dan akan memperbaikinya," ucap Pirlo diFootball Italia.

Sejauh ini, Balotelli baru membuat satu gol. Gol tersebut lahir pada laga melawan Republik Irlandia, di mana Balotelli mencetaknya dengan tubuh membelakangi gawang

Sunday, June 24, 2012

Blanc Sesalkan Gol Pertama Spanyol



Donetsk - Laurent Blanc menyesali gol pertama yang dicetak Spanyol ke gawang Prancis di babak pertama. Baginya, gol itu menjadi kunci kemenangan Spanyol atas timnya.

Les Bleus menghadapi Spanyol di babak perempatfinal Piala Eropa 2012 yang dimainkan di Donbass Arena, Minggu (24/6/2012) dinihari WIB.

Di laga itu, La Furia Roja yang tampil lebih dominan mencetak gol pertamanya di menit ke-19 lewat Xabi Alonso dan menutup paruh pertama dengan keunggulan 1-0. Di babak kedua, Alonso menggandakan keuggulan Spanyol dan memberi timnya kemenangan 2-0.

Bagi Blanc, gol pertama yang dicetak oleh Alonso itulah yang menjadi kunci kemenangan Spanyol. Jika skor masih 0-0 hingga jeda, pelatih berusia 46 tahun itu yakin Prancis bisa mengubah keadaan di babak kedua.

"Apa yang saya sesalkan adalah mereka mencetak gol dari peluang pertama yang mereka miliki. Mereka lebih dominan dalam penguasaan bola, tapi mereka tidak punya banyak peluang," jelas Blanc di situs resmi UEFA.

"Sial bagi kami, peluang pertama mereka menjadi gol. Saya pikir jika kami mampu mepertahankan skor 0-0 hingga jeda, kami bisa memulai lagi di babak kedua."

"Semua tim besar ada di Euro ini dan mereka akan ada di semifinal. Sayangnya, Prancis bukan salah satunya," tutupnya.

Bertemu Ronaldo di Semifinal, Alonso Tak Takut



Donetsk - Spanyol akan menghadapi Portugal di semifinal Piala Eropa 2012. Gelandang La Furia Roja, Xabi Alonso, mengaku tidak akan takut menghadapi kapten A Seleccao, Cristiano Ronaldo.

Spanyol lolos ke babak semifinal usai mempecundangi Prancis 2-0 dalam laga di Donbass Arena, Donetsk, Minggu (24/6/2012) dinihari WIB. Dua gol Spanyol diborong oleh Alonso.

"Tim ini fenomenal dan secara pribadi saya sangat puas dengan dua gol ini," kata Alonso seperti dilansir Sky Sports.

"Kami tidak memiliki banyak peluang tapi kami benar-benar mengontrol pertandingan," lanjutnya.

Di babak empat besar, Spanyol akan meladeni Portugal, Rabu (27/6/2012) mendatang. Saat ditanya soal kemungkinan bertemu Ronaldo, penyerang andalan Portugal yang juga rekannya di Real Madrid, Alonso mengaku tidak khawatir.

"Pertandingan selanjutnya (semifinal--red) adalah yang terpenting. Kami semua mengenal siapa Ronaldo, tetapi kami tidak takut," ucapnya.

"Kami sekarang di semifinal dan tentu saja semua pertandingan di babak ini adalah soal hidup dan mati," ujar mantan pemain Liverpool ini.

'Prancis Kalah dari Tim Terbaik di Dunia'



Donetsk - Prancis harus menelan kekalahan 0-2 dari Spanyol di babak perempatfinal Piala Eropa 2012. Adil Rami pun mengakui bahwa La Furia Rojaadalah tim terbaik di dunia.

Di laga perempatfinal yang dimainkan di Donbass Arena, Minggu (24/6/2012) dinihari WIB, Spanyol bermain lebih dominan dengan penguasaan bola 55%. Tim arahan Vicente Del Bosque itu juga tercatat lebih banyak melakukan serangan.

Dari catatan UEFA, Cesc Fabregas dkk. lebih banyak melepaskan tembakan, yaitu sembilan kali yang lima di antaranya mengarah ke gawang. Sementara Prancis hanya melakukan empat tembakan dan hanya satu yang mengarah ke sasaran.

Spanyol akhirnya memenangi laga dengan skor 2-0 lewat dua gol Xabi Alonso. Rami pun mengakui jika Les Bleus bertanding melawan tim terbaik di dunia.

"Dari sudut pandang saya, kami bermain cukup bagus dalam hal pertahanan. Benar jika kami mengalami kesulitan selama pertandingan, tapi kami sudah mengiranya," sahut bek Valencia itu di situs resmi UEFA.

"Sekarang kami harus mengatakan bahwa kami bermain melawan tim terbaik di dunia. Spanyol tidak punya banyak peluang, tapi ketika punya peluang mereka menyelesaikannya dan itulah yang memberi perbedaan."

"Tidak ada yang bisa Anda lakukan terkait hal itu. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Sekarang kami harus angkat koper dan pulang. Kami hanya bisa memberi selamat pada Spanyol," tutupnya.

Dua Gol Alonso Antar Spanyol ke Semifinal



Donetsk - Spanyol memastikan satu tempat di babak semifinal Piala Eropa 2012. Dua gol yang dicetak oleh Xabi Alonso membuat Spanyol menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0.

Bermain di Donbass Arena, Minggu (24/6/2012) dinihari WIB, Spanyol tampil tanpa penyerang murni. Namun mereka sukses membuka keunggulan lebih dulu lewat Alonso di menit ke-19.

Jelang akhir laga, Spanyol menggandakan keunggulannya. Alonso kembali mencetak gol dan kali ini lewat eksekusi penalti.

Kemenangan ini mengantar La Furia Roja melangkah ke babak semifinal. Di babak empat besar nanti, Spanyol akan menghadapi Portugal yang sebelumnya menyingkirkan Republik Ceko.

Jalannya Pertandingan
Spanyol lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Di menit kelima, Alonso melepaskan umpan pada Fabregas yang ada di kotak penalti. Fabregas terjatuh di kotak penalti setelah terjadi kontak dengan Clichy tapi wasit mengatakan bukan pelanggaran.

Alonso mencoba melakukan tembakan dari jarak jauh. Namun bola masih mampu ditangkap oleh Lloris.

Spanyol kembali membangun serangan. Namun bola umpan Arbeloa dari sisi kanan mampu ditangkap oleh Lloris.

Gol! Serangan Spanyol akhirnya membuahkan hasil di menit ke-19. Bergerak dari sisi kiri, Jordi Alba kemudian melepaskan umpan ke dalam kotak penalti. Alonso yang tak terkawal tanpa kesulitan menyundul bola untuk membawa Spanyol unggul 1-0.

Prancis mendapat peluang di menit ke-25 lewat sebuah tendangan bebas setelah Benzema dilanggar oleh Alonso. Tapi eksekusi Benzema masih melayang si atas mistar gawang Casillas.

Spanyol menekan lewat serangan balik. Fabregas mengirim bola pada Iniesta yang kemudian melakukan tembakan. Namun bola masih mampu diblok pemain belakang Prancis dan hanya menghasilkan sepak pojok.

Peluang Prancis lewat tendangan bebas kembali gagal. Eksekusi Cabaye ke arah pojok kanan gawang masih mampu ditepis oleh Casillas.

Iniesta melakukan kerja sama satu-dua dengan Fabregas. Tapi tendangan Iniesta mampu diblok oleh Koscielny dan menghasilkan sepak pojok. Dari tendangan penjuru ini, sundulan Pique masih melambung di atas mistar gawang Prancis.

Spanyol dapat peluang di penghujung babak pertama. Kali ini lewat tendangan bebas Xavi. Namun bola masih jatuh tepat di pelukan Lloris.

Memasuki babak kedua, Prancis menyerang lebih dulu dari sisi kanan. Debuchy yang menggiring bola mendapat kawalan ketat dari Jordi Alba. Tapi serangan ini patah setelah Debuchy melanggar Jordi Alba.

Alonso kembali melakukan percobaan dari luar kotak penalti. Sial baginya, tembakannya masih melayang jauh dari sasaran.

Debuchy! Sundulannya menyambut umpan Ribery yang bergerak dari sisi kiri melayang tipis di atas mistar gawang Casillas.

Spanyol balik menyerang. Tapi umpan terobosan dari Iniesta ke Fabregas yang lolos dari jebakan offside mampu dipotong oleh Lloris.

Serangan kembali datang dari Spanyol. Pedro yang bergerak dari sisi kiri kemudian melepaskan umpan. Namun umpannya berhasil dipotong oleh Koscielny sebelum bola sampai ke kaki Torres.

Prancis menyerang dari sisi kiri. Ribery berhasil membawa bola masuk ke dalam kotak penalti kemudian melepaskan umpan dari sudut sempit. Tapi bola berhasil dihalau oleh Casillas.

Torres mendapat bola terobosan dari Jordi Alba kemudian melepaskan tembakan yang mampu dihalau oleh Lloris. Tapi hakim garis sudah mengangkat bendera karena Torres sudah terjebak offside.

Spanyol menggandakan keunggulan jelang laga berakhir lewat titik putih. Wasit menghadiahkan tendangan penalti setelah Pedro dijatuhkan oleh Reveillere.

Alonso maju sebagai algojo sukses menjalankan tugasnya. Spanyol menutup laga dengan kemenangan 2-0.

Susunan Pemain:
Spanyol: Casillas, Arbeloa, Pique, Ramos, Alba, Busquets, Alonso, Xavi, Silva (Pedro 65'), Fabregas (Torres 66'), Iniesta (Cazorla 83')

Prancis: Lloris, Reveillere, Rami, Koscielny, Clichy, Debuchy (Menez 64'), M'Vila (Giroud 78'), Cabaye, Malouda (Nasri 64'), Ribery, Benzema

Saturday, June 23, 2012

'Tiga Singa' Ingin Menangi Laga di Waktu Normal



Krakow - Timnas Inggris punya pengalaman pahit dengan yang namanya adu penalti. Tapi itu tak merisaukan Roy Hodgson saat timnya bertemu Italia besok, meskipun ia ingin memenangi laga di waktu normal.

Melawan Italia di Olympic Stadion Kiev, Senin (25/6/2012) dinihari WIB besok, Inggris boleh jadi lebih diunggulkan untuk menang mengingat performa mereka di fase grup. Tapi melawan Azzurri yang punya pertahanan solid dan segudang pengalaman, kemenangan tak akan mudah diraih dan boleh jadi laga akan berlanjut ke extra time atau bahkan diselesaikan lewat adu penalti.

Untuk yang terakhir itu peluang Inggris dan Italia sama-sama besar karena mereka punya sosok kiper tangguh dalam diri Joe Hart serta Gianluigi Buffon. Tapi The Three Lions punya rekor buruk menyoal adu penalti.

Lima kali mereka menjalani adu penalti di turmanen besar seperti Piala Eropa 1996 dan 2004 plus Piala Dunia 1990, 1998 dan 2006, kesemuanya berakhir dengan kekalahan. Tentu memori buruk itu belum hilang sepenuhnya dan boleh jadi masih menghantui para pemain dan juga fans.

Pertanyaan soal kemungkinan adu penalti pun diajukan para jurnalis kepada Hodgson usai memimpin latihan di markas mereka di Krakow. Lalu Hodgson menegaskan jika adu penalti akan dihindari sebisa mungkin oleh timnya. Baginya Steven Gerrard dkk wajib menang lewat pertarungan di waktu normal 2x45 menit.

Bahkan hingga saat ini pun Hodgson belum menentukan siapa-siapa algojo penalti jika pun Inggris harus mencapai fase itu. Sebab penalty shoot-out tak pernah terlintas dalam pikirannya.

"Aku belum memutuskan siapa yang akan jadi algojo penalti. Jadi tidak usah berspekulasi. Pertama-tama aku tidak tahu apakah laga akan diteruskan ke adu penalti dan yang kedua, siapa yang akan masih berada di lapangan usai 120 menit laga," tegas Hodgson di Sportinglife.

"Aku ada seorang yang optimistis. Aku tidak berpikir laga akan berlanjut ke adu penalti. Aku hanya mengantisipasi untuk kami bisa menang di waktu normal. Kami saja belum bertandingan, jadi mengapa Anda harus memintaku untuk memikirkan soal bagaimana jika laga berlanjut sampai 120 menit?" sambungnya.

"Itu adalah pikiran yang negatif dan aku tidak mengerti mengapa begitu terobsesi dengan itu," tandas Hodgson.

Hodgson Tak Salah Bawa Terry ke Polandia-Ukraina



Krakow - Penunjukkan John Terry sebagai bagian skuad Inggris di PIala Eropa 2012 awalnya mendapat banyak tentangan serta kritik. Tapi sejauh ini penampilan Terry terhitung memuaskan dan Roy Hodgson pun mengakui.

Kasus rasisme yang sedang menyangkut Terry adalah sebab utama mengapa media-media Inggris serta para fans banyak yang menyoroti keputusan Hodgson membawa bek Chelsea itu ketimbang Rio Ferdinand.

Persoalan ini kian memanjangkan perkara Terry yang sebelumnya sudah membawa korban yakni Fabio Capello yang mundur dari kursi pelatih, akibat pencopotan ban kapten dari lengan Terry.

Maka wajar Terry adalah sosok pemain Inggris yang paling disorot di Piala Eropa kali ini dan tiga laga di fase Grup jadi penilaian awal untuk pemain yang sempat tersangkut kasus perselingkuhan itu.

Setelahnya Inggris berhasil melewati babak tersebut dengan status juara grup dan penampilan Terry pun terhitung luar biasa bersama Joleon Lescott di jantung pertahanan Inggris.

Meski gawang Inggris kebobolan tapi kesigapan Terry dalam mengawal pertahanan dapat membuat tenang Joe Hart di bawah mistar. Salah satunya adalah ketika melawan Ukraina di mana ia menyapu bola hasil sepakan pemain Ukraina yang nyaris masuk ke gawang.

Maka wajar jika Hodgson menyebut keberhasilan Inggris melaju ke perempatfinal tak lepas dari perang Terry (dan Lescott) di lini belakang.

"Dia membawa penampilan bagusnya di akhir musim ke turnamen ini. Senang rasanya melihat ia mampu bekerja sama dengan baik bersama Joleon Lescott," tukas Hodgson di BBC.

"Jelas cederanya Gary Cahilll membuat persaingan di posisi (bek tengah) menurun dan jelas dari awal, dia dan Joleon sangat melindungi kami dan duet mereka sangat sangat penting bagi kami," pungkas Hodgson.

'Kritik Bikin Ronaldo Lebih Tangguh'



Warsawa - Penampilan Cristiano Ronaldo di Piala Eropa kali ini tak lepas dari kritik serta cemoohan. Tapi itu semua justru dinilai malah bikin Ronaldo semakin kuat.

Punya rekor gol yang luar biasa di Real Madrid dalam dua musim terakhir plus berhasil membawa tim itu jadi juara musim lalu, membuat Ronaldo dijagokan akan bersinar di Piala Eropa dan membawa Portugal berprestasi.

Tapi Ronaldo justru tampil buruk di dua laga awal melawan Jerman dan Denmark. Pemain termahal dunia itu menyia-nyiakan banyak peluang yang didapatnya dan jelas kritik menghampirinya.

Puncaknya adalah saat di laga Denmark, Ronaldo terlihat begitu kesal ketika para penonton meneriakkan nama Lionel Messi, yang notabene adalah rivalnya di La Liga, ketika pesepakbola 27 tahun itu sedang menguasai bola.

Tapi Ronaldo seperti membungkam segala kritik itu lewat penampilan cemerlangnya di pertandingan kontra Belanda dan Republik Ceko. Tiga gol berhasil disumbangkan di dua laga itu dan kini Seleccao Das Quinas sudah ada di semifinal.

Penampilan Ronaldo di dua laga itu membuat dirinya kini memuncaki daftar Castrol Index yang biasa mengurus statistik para pemain di Polandia-Ukraina.

Melihat penampilan rekan setimnya itu, bek Portugal Pepe menegaskan jika Ronaldo bisa seperti itu karena terpacu oleh kritik dan cemoohan yang belakangnya datang kepadanya. Ia pun berharap Ronalo bisa melanjutkannya di semifinal nanti.

"Semakin sering Anda membicarakan Cristiano Ronaldo, maka dia akan semakin tangguh. Dia adalah pemain dari planet lain. Baginya tidak penting untuk menjadi yang terbaik di dunia. Dia luar biasa," ujar Pepe kepada RTP yang dilansir ESPN Star.

"Di atas lapangan, saya melihatnya dan berpikir bahwa dia berasa dari planet lain. Dia selalu tampil luar biasa di setiap laga yang dimainkannya," pungkas Pepe.